BERITASEMARANG.ID – Tanggal 1 Januari 2026 bukan sekadar pergantian tahun bagi Sabri Rasyid (NIK 680149). Hari tersebut menandai babak baru dalam hidupnya setelah resmi memasuki masa purnabakti dari PT Telkom Indonesia. Setelah 32 tahun 6 bulan mengabdi, Sabri melipat seragam birunya dengan penuh rasa bangga dan haru.
Perjalanan karir Sabri adalah cermin sejarah telekomunikasi Indonesia. Bergabung sejak tahun 1993 dengan seragam putih-biru, ia menjadi saksi hidup bagaimana teknologi berubah secara radikal.
”Dari teknologi analog hingga era digital, dari kabel kertas hingga fiber optik, dari telepon engkol hingga touchscreen, hingga layanan operator 108 yang kini bertransformasi menjadi AI. Saya bersyukur menjadi bagian dari transformasi besar ini,” tulis Sabri dalam pesan refleksinya, Rabu (31/12/2025).
Suka Duka “Proyek Sangkuriang” dan Target yang “Bikin Meriang”
Dalam catatan perpisahannya, Sabri mengenang bagaimana dinamika bekerja di perusahaan telekomunikasi plat merah tersebut. Ia menceritakan momen-momen ikonik saat tim harus mengejar “proyek Sangkuriang”—istilah untuk proyek besar yang harus selesai dalam semalam—hingga target penjualan yang terkadang membuat “meriang”.
Namun, baginya, tekanan tersebut justru yang mempererat ikatan kekeluargaan di lingkungan kerja. Telkom bagi Sabri bukan sekadar kantor, melainkan rumah kedua tempat ia belajar tentang dedikasi dan profesionalisme.
Permohonan Maaf dan Pesan untuk Masa Depan
Menutup masa pengabdiannya di usia 58 tahun, Sabri menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada para atasan, rekan sejawat, dan tim yang pernah ia pimpin. Ia menyadari bahwa perjalanan panjang tersebut tidak lepas dari kesalahan dan keputusan yang mungkin tidak memuaskan semua pihak.
Ia juga menekankan bahwa pensiun bukanlah akhir dari segalanya.
“Pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Apapun status kita—aktif, pensiun, atau transisi—yang terpenting adalah tetap produktif dan memberikan manfaat bagi sekitar,” tambahnya.
Jejak Positif untuk Telkom Jaya
Mengutip sebuah pesan bijak, Sabri meyakini bahwa seseorang tidak diukur dari seberapa lama ia bekerja, melainkan dari seberapa besar jejak positif yang ditinggalkan. Ia berharap pengabdiannya selama tiga dekade lebih dapat memberikan manfaat bagi kemajuan Telkom dan Indonesia.
“Terima kasih Telkom telah menjadi tempat saya menghidupi keluarga dan menemukan makna pengabdian. Semoga Telkom semakin jaya, dan Indonesia semakin maju,” tutupnya.
Sebuah perjalanan inspiratif dari seorang rimbawan telekomunikasi yang kini siap melangkah ke fase kehidupan berikutnya dengan penuh optimisme.
Oleh: Kiriman Pembaca / Sabri Rasyid
Jakarta, 31 Desember 2025

Komentar