BERITASEMARANG.ID – Implementasi pajak opsen yang berlaku sejak April 2025 memberikan hantaman cukup telak bagi industri otomotif di Jawa Tengah. Namun, di tengah penurunan volume penjualan secara regional, Nasmoco Group selaku main dealer Toyota di Jawa Tengah dan DIY membuktikan resiliensinya dengan tetap mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar (market share) yang tak tergoyahkan.
Meski data menunjukkan adanya penurunan penjualan unit secara umum di Jawa Tengah hingga 34% akibat beban pajak yang lebih tinggi dibanding provinsi tetangga, kepercayaan konsumen terhadap merek Toyota justru menjadi jangkar stabilitas bagi Nasmoco.
Presiden Direktur Nasmoco Group, Benny Redjo Setiyono, mengakui bahwa tantangan saat ini cukup berat karena adanya selisih harga yang signifikan antara unit berpelat H atau AD dibandingkan pelat nomor luar daerah. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa loyalitas pelanggan tetap menjadi kekuatan utama.
”Kami percaya bahwa pelanggan Toyota tetap memiliki kepercayaan tinggi. Adanya layanan purna jual yang kuat dan ekosistem yang sudah terbentuk membuat kami tetap menjadi pilihan utama masyarakat, meski kondisi pasar sedang terkoreksi,” ujar Benny dalam pertemuan di Semarang, Rabu (11/3/2026).
Kondisi pasar saat ini memang sedang menghadapi fenomena outflow, di mana sebagian calon pembeli memilih melakukan transaksi di Jakarta, Jawa Barat, atau DIY demi menghindari selisih pajak bbmkb yang mencapai angka signifikan.
VP Direktur Nasmoco Group, Djojana Jody, menambahkan bahwa selisih pajak tersebut mencapai jutaan rupiah untuk unit seperti Toyota Agya.
”Secara nasional, ritel turun sekitar 7%, namun di Jateng penurunan jauh lebih dalam. Meskipun begitu, secara posisi market, Toyota di Jawa Tengah tetap yang terbaik. Tantangan kita adalah mengedukasi konsumen bahwa membeli di daerah sendiri memiliki dampak jangka panjang bagi ekonomi lokal,” jelas Jody.
Data bengkel Nasmoco menunjukkan indikator menarik; sekitar 15% hingga 20% kendaraan yang melakukan servis adalah unit pembelian dari luar daerah (DKI Jakarta dan Jabar). Hal ini membuktikan bahwa secara fungsional, warga Jawa Tengah tetap memilih Toyota sebagai kendaraan operasional mereka, meskipun secara administratif terjadi pelarian pembelian.
Marketing Division Head Nasmoco Group, Herybertus menjelaskan, pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan Bapenda Jawa Tengah untuk merumuskan kebijakan relaksasi. Nasmoco optimistis jika pemerintah daerah memberikan pelonggaran, volume penjualan akan kembali terkerek naik, yang pada gilirannya akan menyelamatkan ekosistem pendukung seperti perusahaan pembiayaan, asuransi, hingga bengkel umum.
”Kami sedang berhitung bersama merek-merek lain agar pemerintah daerah melihat bahwa relaksasi justru akan meningkatkan total pendapatan daerah dari volume yang lebih besar,” tambah Herybertus.
Menghadapi sisa tahun 2026 yang penuh tantangan global, termasuk fluktuasi kurs dan kenaikan biaya produksi, manajemen Nasmoco menyarankan konsumen untuk tidak menunda pembelian.
”Tren harga ke depan cenderung naik bertahap karena tekanan biaya global. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan harga terbaik sebelum penyesuaian lebih lanjut terjadi,” pungkas Benny Redjo optimis.

Komentar