Pendidikan Jateng

Tembus Pasar Jepang, Ekspor Teri Nasi Mitra Binaan UNDIP Berdayakan Ratusan Nelayan Pantura

BERITASEMARANG.ID – Keberhasilan CV Karimun Mina Sejahtera, mitra binaan Universitas Diponegoro (UNDIP), dalam mengekspor ikan teri nasi ke pasar Jepang dan Singapura menjadi bukti nyata tingginya daya saing produk perikanan lokal di kancah internasional.

​Tidak sekadar mencetak angka perdagangan, aktivitas ekspor yang berkelanjutan ini terbukti memberikan dampak sosial-ekonomi yang masif bagi ratusan masyarakat di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura). Melalui kepastian rantai pasok (supply chain) yang dibangun atas kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan masyarakat, warga pesisir kini memperoleh kepastian penghasilan dan lapangan kerja baru.

​Hingga Juni 2026, CV Karimun Mina Sejahtera tercatat telah sukses melaksanakan sembilan kali pengiriman ekspor ke Jepang dan Singapura. Dalam perkembangannya, UNDIP juga menggandeng Marutetsu Co., Ltd., sebuah perusahaan industri perikanan asal Jepang, untuk terus melakukan inovasi dan pengembangan produk hasil laut yang berorientasi ekspor.

​Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menegaskan bahwa kontribusi perguruan tinggi saat ini harus diukur dari kemampuannya menghadirkan dampak nyata dan langsung di tengah masyarakat.

​“Perguruan tinggi harus mampu menghadirkan dampak nyata. Keberhasilan sebuah inovasi bukan hanya diukur dari jumlah produk yang diekspor, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Program ini menunjukkan bagaimana riset, teknologi, dan kemitraan internasional dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga pesisir,” ujar Prof. Suharnomo dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).

Wajah Baru Stasiun Tawang: Menjaga Sejarah, Memacu Ekonomi Semarang

​Gerakkan Ekonomi Melalui Ribuan Nelayan dan Perempuan Pesisir

​Program ekspor strategis ini dijalankan melalui Marine Science Techno Park (MSTP) UNDIP Jepara. Saat ini, program tersebut telah mengintegrasikan sekitar 100 kapal dari total 1.200 penangkap ikan yang beroperasi di wilayah Pantura, mencakup daerah Jepara, Kendal, Rembang, hingga Tuban.

​Dengan estimasi setiap kapal dioperasikan oleh 10 orang, sedikitnya ada 1.000 nelayan yang merasakan manfaat ekonomi langsung berupa stabilitas pendapatan dari kemitraan ini.

​Tidak hanya berdampak pada nelayan di laut, industri hilir pengolahan ikan teri nasi ini juga membuka ruang pemberdayaan gender yang inklusif. Proses produksi menyerap sekitar 200 tenaga kerja yang mayoritas merupakan kaum perempuan pesisir Pantura. Mereka memegang peranan penting mulai dari proses penyortiran, pembersihan, pengeringan, hingga memastikan produk memenuhi standar mutu internasional. Selain itu, terdapat 60 warga lain yang diberdayakan dalam sektor penilaian kualitas (quality control) dan pengemasan.

​Secara akumulatif, lebih dari 1.260 masyarakat pesisir terserap ke dalam rantai pasok produksi ini. Dampak finansialnya pun sangat terasa, di mana banyak pekerja yang kini mampu memperbaiki taraf hidup, bahkan melunasi utang-utang di koperasi yang sebelumnya menjadi beban finansial keluarga.

​Cerita Inspiratif Kepala Produksi Lulusan SMP

​Salah satu potret keberhasilan pemberdayaan ini lahir dari sosok Nasiul Aini. Perempuan yang menyandang status janda dan hanya mengantongi ijazah lulusan SMP ini, kini dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Kepala Produksi di CV Karimun Mina Sejahtera.

Wuling Resmi Meluncurkan Aira ev di GIIAS 2026: Mobil Listrik Ringkas nan Bergaya Neo Classic, Harga Mulai Rp155 Juta

​Nasiul bertanggung jawab penuh mengawasi jalannya proses manufaktur hingga memastikan kualitas produk memenuhi standar ketat negara tujuan.

​“Alhamdulillah, pekerjaan ini sangat membantu ekonomi keluarga. Saya bisa melunasi utang koperasi yang selama ini menjadi beban. Saya juga tidak menyangka bisa dipercaya menjadi kepala produksi dan terlibat dalam produk yang diekspor ke Jepang dan Singapura,” ungkap Nasiul dengan haru.

​Ia menambahkan, program pendampingan dari UNDIP ini tidak hanya memberikan mata pencaharian, tetapi juga memberikan ruang bagi perempuan pesisir untuk berkembang melalui berbagai pelatihan manajemen dan teknis.

​Kepastian Pasar dan Stabilitas Harga

​Sebelum adanya sinergi antara UNDIP dan CV Karimun Mina Sejahtera, para nelayan lokal kerap dihadapkan pada fluktuasi harga pasar harian yang tidak menentu. Saat musim tangkap melimpah, harga komoditas sering kali anjlok akibat keterbatasan daya serap pedagang lokal.

​Hadirnya kepastian supply chain internasional ini memutus rantai ketidakpastian tersebut. Direktur Utama CV Karimun Mina Sejahtera, Dwi Lestari, menjelaskan bahwa konsistensi ekspor ini secara otomatis memperkuat ekosistem ekonomi lokal secara jangka panjang.

​UIN Walisongo & BNPT Racik “Tutur Harmoni” Tangkal Intoleransi Sejak Dini  

​“Ketika permintaan ekspor berjalan secara konsisten, nelayan memiliki kepastian pasar, pekerja pengolahan memperoleh pekerjaan yang berkelanjutan, dan masyarakat pesisir mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih stabil. Ini bukan hanya tentang ekspor produk, tetapi tentang membangun rantai ekonomi yang berkelanjutan,” terang Dwi.

​Langkah konkret yang diinisiasi oleh UNDIP dan mitranya ini sekaligus menjadi wujud nyata dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya pada poin SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui tata kelola industri perikanan yang inklusif dan berkelanjutan. Berita ini diharapkan dapat menjadi rujukan positif bagi pengembangan potensi pesisir di daerah lain di Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement