BERITASEMARANG.ID — Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) merayakan Dies Natalis ke-31 dengan menggelar Seminar Nasional 2026 di Gedung Fransiskus Asisi, Kampus 2 SCU BSB Kota Semarang, Kamis (30/7/2026). Mengusung tema “Harmoni Laut dan Darat: Integrasi Sistem Bahari dan Agraris untuk Pangan Berkelanjutan di Masa Depan”, forum strategis ini mempertemukan kalangan akademisi, pemerintah, pakar industri, hingga media untuk merumuskan arah baru ketahanan pangan nasional.
Seminar ini bukan sekadar ajang akademik belakangan, melainkan respons nyata terhadap berbagai tantangan global yang makin nyata, mulai dari perubahan iklim, tekanan ekonomi, hingga krisis regenerasi petani dan nelayan.
Dekan FTP SCU, Dr. Inneke Hantoro, M.Sc., menekankan bahwa menghadapi ancaman krisis pangan dan iklim ekstrem tidak cukup hanya mengandalkan teknologi canggih semata. Inovasi sains modern harus berjalan seiring dengan kearifan lokal yang telah teruji secara turun-temurun.
Dalam pandangannya, terdapat tiga pilar utama yang menjadi fondasi sistem pangan berkelanjutan:
- Menghidupkan Kearifan Lokal dan Tradisi Pangan: Tradisi konservasi seperti Sasi di Maluku atau Mane’e di Sulawesi bukti nyata bagaimana masyarakat adat memanen laut secara bijak. Di samping itu, tradisi lokal seperti lahuan dan pengolahan pangan tradisional menjadi kunci menjaga keterjangkauan dan ketersediaan pangan di tingkat tapak.
- Penguatan Infrastruktur Berkelanjutan: Dukungan fisik dan kelembagaan yang kokoh sangat krusial untuk menopang rantai pasok, distribusi, serta efisiensi pengolahan pascapanen di wilayah pesisir maupun agraris.
- Pemberdayaan Perempuan: Penekanan khusus diberikan pada peran sentral perempuan dalam menjaga rantai pasok dan kualitas gizi pangan keluarga di tingkat lokal.
Dr. Inneke juga menyoroti keunikan Kota Semarang yang memiliki dua karakteristik sekaligus: kawasan pesisir dan lahan pertanian agraris. Menurutnya, darat dan laut tidak boleh lagi dipandang sebagai dua sektor terpisah, melainkan satu kesatuan sistem pangan utuh.
”Kita tidak boleh berada di zona nyaman. Semarang punya potensi besar sebagai kota metropolitan dengan dua warna, pesisir dan agraris. Jika tantangan alih fungsi lahan dan perubahan iklim di sekitar kota tidak kita jaga bersama, produksi pangan akan makin sulit ke depan,” tegas Dr. Inneke.
Ia juga menambahkan, perayaan Dies Natalis FTP SCU ke-31 ini dilanjutkan dengan kegiatan gaya hidup sehat seperti Spektaran (lari 5K–10K) pada akhir pekan sebagai simbol bahwa keberlanjutan pangan juga berkaitan erat dengan pola hidup sehat.
Sinergi akademisi dan eksekutif terlihat dari pemaparan Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Eko Yuniarto, S.IP., M.M. Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Semarang saat ini tengah berkolaborasi erat dengan para pakar dan akademisi dalam menyusun kebijakan strategis, salah satunya Perancangan Perda Ketahanan Pangan.
Perda yang melibatkan lintas dinas (Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan) serta DPRD Kota Semarang ini diharapkan menjadi payung hukum yang kuat agar pemerintah daerah dapat melangkah lebih progresif.
Selain pengembangan Inovasi Padi Pesisir (Biosalin) dan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), Pemkot Semarang juga tengah menggodok program inovasi terbaru bertajuk “Gurih Padi”. Program ini fokus pada pemanfaatan dan pembudidayaan lahan pekarangan rumah tangga untuk pemenuhan gizi keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras.
”Diversifikasi pangan lokal terus kita dorong agar masyarakat tidak bergantung pada satu jenis karbohidrat saja. Melalui program seperti Gurih Padi, pekarangan warga dimanfaatkan tidak hanya untuk menanam, tetapi juga didampingi agar berkelanjutan dan bisa membantu menstabilkan harga pangan,” jelas Eko Yuniarto.
Perspektif krusial mengenai dampak langsung perubahan iklim disampaikan oleh jurnalis senior Kompas, Ahmad Arif. Berdasarkan riset kolaboratif bersama BMKG di kawasan Pantura (seperti Indramayu), terungkap bahwa tren kenaikan suhu di Pantura telah mencapai 0,295 °C hingga hampir 0,5 °C per 10 tahun.
Ahmad Arif mengingatkan bahwa selama ini fokus kebijakan sering kali hanya tertuju pada angka produktivitas tanaman atau hasil tangkapan laut, tetapi mengabaikan keselamatan jiwa para produsennya—petani dan nelayan.
- Risiko Kesehatan Tinggi: Banyak petani dan nelayan dilaporkan pingsan di lapangan, bahkan ada dugaan kasus meninggal dunia akibat heatstroke (tekanan panas ekstrem).
- Perubahan Jam Kerja: Karena suhu siang hari yang terlampau menyengat, petani kini terpaksa mengubah pola kerja menjadi sangat pagi dan melanjutkannya sore hari.
- Gangguan Istirahat: Kenaikan suhu signifikan pada malam hari turut mengganggu waktu tidur petani dan nelayan, yang dampaknya menurunkan kondisi fisik dan produktivitas harian mereka.
- Krisis Regenerasi: Tekanan lingkungan dan risiko kerja yang tinggi ini menjadi salah satu alasan utama makin sulitnya menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
”Jika kita ingin mengamankan pangan masa depan, konsep penting yang tidak boleh dilupakan adalah mengamankan produsen pangannya dulu. Keselamatan dan kesehatan petani serta nelayan harus menjadi bagian dari perhitungan kebijakan,” ungkap Ahmad Arif.
Selain menghadirkan Ahmad Arif dan Pemkot Semarang, seminar nasional ini juga menghadirkan Ketua PATPI Pusat Prof. Dr. Ir. Giyatmi, M.Si., serta pimpinan Kalbe Nutritionals, Ainurrofik, S.K.M.
Melalui diseminasi riset ilmiah dan wadah dialog multisektor ini, FTP Unika Soegijapranata mempertegas komitmennya di usia ke-31 tahun untuk terus berdiri di garda terdepan—menjembatani riset akademis dengan kebijakan publik demi mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan Indonesia.

Komentar