BERITASEMARANG.ID – PT Pegadaian (Persero) terus memperkuat posisinya sebagai pionir dalam membangun ekosistem bullion (bank emas) nasional. Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan menarik potensi emas masyarakat yang mengendap ke dalam sistem keuangan resmi, tetapi juga mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat perdagangan emas di tingkat internasional.
Direktur Utama PT Pegadaian (Persero), Damar Latri Setiawan, mengungkapkan bahwa estimasi aset emas yang disimpan secara mandiri oleh masyarakat Indonesia mencapai 1.800 ton. Kehadiran layanan bullion services diyakini menjadi kunci agar aset emas tersebut dapat terintegrasi secara aman, rapi, dan memberikan dampak produktif bagi perekonomian nasional.
”Selama ini masyarakat menyimpan emas di bawah bantal atau di lemari, yang tentu rawan dan tidak terdigitasi maupun ter-monetisasi. Melalui ekosistem bullion, emas yang ditabung atau diinvestasikan masyarakat bisa masuk ke sistem keuangan, diputar kembali untuk pinjaman industri emas dari hulu ke hilir, hingga tempat penitipan ekosistem perdagangan emas,” ujar Damar dalam acara Talk Show Inspirasi Pagi secara daring di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Pegadaian siap meluncurkan Indonesia Bullion Ecosystem yang dijadwalkan pada 20 Agustus 2026 mendatang. Sebagai pengelola bank emas nasional, Pegadaian menjamin keamanan dan transparansi fisik emas secara ketat.
-. Jaminan Keamanan 1:1: Setiap saldo emas digital atau tabungan emas masyarakat dijamin penuh dengan ketersediaan fisik emas (one-to-one ratio).
-. Audit Periodik & Independen: Evaluasi dan pencocokan fisik emas (fisik vs register) dilakukan secara berkala melalui audit internal serta pihak eksternal independen dan regulator.
-. Fasilitas Khasanah Standar Internasional: Pengelolaan fisik emas didukung fasilitas vaulting berstandar keamanan internasional.
Mobilisasi Literasi dan Pertumbuhan Kinerja Semester 1 2026
Ekosistem bullion ini melengkapi pilar bisnis utama Pegadaian yang mencatatkan kinerja positif pada Semester 1 2026. Pegadaian berhasil menyalurkan uang pinjaman sebesar Rp155,1 triliun dengan total aset mencapai Rp106,33 triliun, serta menjaga rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) di level sangat rendah, yakni 0,71%.
Pertumbuhan ini didukung oleh efisiensi operasional (BOP/BOPO) yang membaik dari 60% menjadi 53%–55%, serta masifnya adopsi aplikasi digital Tring! yang kini telah digunakan lebih dari 6 juta nasabah di seluruh Indonesia.
Untuk menopang ekosistem bullion, Pegadaian gencar melakukan literasi keuangan, digital, dan investasi emas secara berkelanjutan melalui 4.085 jaringan cabang mandiri dan 625 outlet kolaborasi (Co-location).
”Indonesia memiliki potensi besar, baik dari sisi produksi tambang emas peringkat ke-6 dunia maupun budaya masyarakatnya yang gemar berinvestasi emas. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan layanan Pegadaian dan aplikasi Tring! sebagai mitra terpercaya dalam membangun masa depan finansial dan bersama-sama Meng-Emaskan Indonesia,” tutup Damar.

Komentar