BERITASEMARANG.ID – Ada cara unik yang dilakukan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang untuk menyemarakkan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXXI Tahun 2026. Selama lima hari, masyarakat dan para peserta MTQN diajak menikmati aneka kuliner khas Kota Semarang secara gratis.
Melalui kegiatan Pasar Rakyat Kuliner Khas Semarang, Kantor Kemenag Kota Semarang menyediakan beragam makanan tradisional khas Kota Atlas di halaman kantor mulai 14 hingga 18 September 2026.
Berbagai kuliner legendaris Semarang akan disajikan secara bergantian setiap harinya. Mulai dari lumpia, wingko babat, tahu gimbal, soto Semarangan, lontong cap go meh, mie kopyok, dan aneka makanan khas lainnya.
Kepala Kemenag Kota Semarang, H. Muhtasit, mengatakan Pasar Rakyat tersebut merupakan bentuk dukungan keluarga besar Kemenag Kota Semarang sebagai bagian dari tuan rumah penyelenggaraan MTQN XXXI.
Menurutnya, gelaran MTQN bukan hanya menjadi momentum syiar dan mempererat persaudaraan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Semarang kepada masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
“Melalui Pasar Rakyat ini, kami ingin memperkenalkan kuliner khas Semarang kepada para kafilah dan masyarakat yang hadir dalam MTQN. Harapannya, kuliner khas Semarang semakin dikenal dan usaha kuliner halal di Kota Semarang dapat berkembang,” ujar Muhtasit.
Ia menambahkan, penyelenggaraan Pasar Rakyat juga menjadi bentuk rasa syukur dan kegembiraan keluarga besar Kemenag Kota Semarang dalam menyambut perhelatan MTQN XXXI.
“Kami ingin kebahagiaan MTQN ini tidak hanya dirasakan oleh para peserta, tetapi juga oleh masyarakat Kota Semarang. Karena itu, kami hadirkan kuliner khas Semarang yang bisa dinikmati secara gratis,” katanya.
Tak Sekadar Makan Gratis
Kasubbag TU Kemenag Kota Semarang, Dony Aldise Harahap, menjelaskan Pasar Rakyat Kuliner Khas Semarang dirancang dengan konsep kuliner yang berbeda setiap hari.
Konsep tersebut sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan semakin banyak makanan khas Semarang kepada para kontingen MTQN dari berbagai provinsi di Indonesia.
“Setiap hari kulinernya berbeda. Jadi masyarakat maupun kafilah yang datang bisa menikmati berbagai macam makanan khas Semarang. Ini sekaligus menjadi pengalaman bagi mereka untuk mengenal kuliner lokal kita,” jelas Dony.
Menurut Dony, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan sektor kuliner di Kota Semarang, terutama usaha kuliner halal.
Para peserta MTQN yang datang dari berbagai penjuru Indonesia diharapkan tidak hanya membawa pengalaman mengikuti rangkaian perlombaan dan kegiatan keagamaan, tetapi juga mengenal berbagai potensi lokal Kota Semarang.
“Harapan kami, setelah mereka pulang ke daerah masing-masing, kuliner Semarang sudah menjadi sesuatu yang mereka kenal dan mungkin mereka rekomendasikan kepada keluarga maupun masyarakat di daerahnya,” ungkapnya.
Lebih dari itu, Pasar Rakyat menjadi bentuk keterlibatan Kemenag Kota Semarang dalam menghadirkan kemeriahan MTQN di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus mempertegas komitmen Kemenag Kota Semarang dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui semangat SUMEH, yakni Senyum, Unggul, Melayani, Empati, dan Harmoni.
“Semangat SUMEH ini kami wujudkan melalui pelayanan yang dekat dengan masyarakat. MTQN adalah momentum besar, sehingga kami ingin masyarakat juga ikut merasakan suasana kebersamaan dan kebahagiaannya,” pungkas Dony.
Dengan hadirnya Pasar Rakyat Kuliner Khas Semarang, kemeriahan MTQN XXXI di Kota Semarang tidak hanya berlangsung di arena perlombaan. Aroma lumpia, tahu gimbal, soto, mie kopyok, hingga aneka kuliner tradisional lainnya turut menjadi bagian dari cerita keramahan Kota Semarang dalam menyambut tamu-tamu dari seluruh Indonesia.

Komentar