BERITASEMARANG.ID – UIN Walisongo Semarang mendorong mahasiswa dan akademisi ikut mengkaji fenomena meningkatnya angka perceraian di tengah menurunnya angka pernikahan. Persoalan ketahanan keluarga dinilai menjadi tantangan penting dalam menyiapkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Hal itu mengemuka dalam Studium Generale bertema “Ketahanan Keluarga untuk Membentuk Generasi Berkualitas Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar UIN Walisongo Semarang, Senin (14/9).
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., yang menjadi pembicara, mengatakan perubahan angka pernikahan dan perceraian tersebut perlu dibaca lebih jauh, termasuk melalui penelitian di lingkungan akademik.
“Perubahan ini layak dibaca lebih jauh dan dapat menjadi ruang penelitian di lingkungan akademik,” ujarnya.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang Dr. Nasihun Amin mengatakan, ketahanan keluarga memiliki kaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi membutuhkan SDM yang unggul, cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing secara global.
“SDM berkualitas tersebut tentu tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari keluarga yang kuat dan tangguh sebagai unit terkecil sekaligus fondasi awal pembentukan karakter bangsa,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Umum Pengurus Pusat IPARI sekaligus Penyuluh Agama Islam Ahli Madya Hj. Elvi Anita Afandi menilai keluarga merupakan tempat pertama pembentukan karakter manusia.
“Ketahanan keluarga bukan sekadar urusan rumah tangga, tapi urusan masa depan bangsa,” tegas Elvi.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat relevansi keilmuan FDK UIN Walisongo dalam menjawab persoalan keluarga. Mahasiswa dinilai memiliki bekal komunikasi, konseling, pendampingan, hingga analisis sosial yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan keluarga di tengah perubahan sosial.

Komentar