Semarang

Kepala Kemenag Kota Semarang Tekankan Profesionalisme Guru dan Mitigasi Limbah Program MBG

BERITASEMARANG.ID – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang menggelar kegiatan Pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diikuti oleh 650 peserta di lingkungan Kemenag Kota Semarang. Acara yang dilaksanakan di Rumah Dinas Walikota Semarang berlangsung khidmat ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa oleh Tantowi Jauhari, S.S.

​Dalam arahannya, Kepala Kantor Kemenag Kota Semarang, H. Muhtasit, S.Ag, M.Pd., memaparkan data krusial terkait kesejahteraan dan profesionalisme tenaga pendidik. Dari total 3.054 guru di bawah naungan Kemenag Semarang, sebanyak 1.535 guru (baik PNS, PPPK, maupun non-PNS) telah menerima sertifikasi, sementara 1.519 lainnya masih dalam proses.

​”Kementerian Agama melalui Sekjen terus mengupayakan penambahan anggaran untuk pembayaran sertifikasi guru Madrasah maupun Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum. Untuk guru PAI yang mengajar di lembaga dinas maupun swasta, meskipun gaji dari instansi masing-masing, tunjangan profesinya tetap menjadi tanggung jawab Kementerian Agama,” urai Muhtasit.

​Tercatat, dari 1.185 guru agama (Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Khonghucu), sebanyak 977 orang telah tersertifikasi. Muhtasit menginstruksikan jajaran Pendidikan Madrasah untuk terus melakukan pemutakhiran data guna memastikan laporan profesionalisme guru tersampaikan dengan akurat ke pusat.

Jelang Ramadan, Pertamina Guyur Tambahan Satu Juta Lebih Tabung LPG 3 Kg di Jateng dan DIY

​Selain masalah sertifikasi, Muhtasit menyoroti kesiapan lembaga pendidikan dalam menyambut kebijakan nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan total 45.000 siswa madrasah di Kota Semarang yang akan menjadi penerima manfaat, ia mengingatkan para kepala madrasah dan guru untuk waspada terhadap dampak ikutan, terutama masalah kebersihan dan limbah makanan.

​”Program MBG adalah keputusan Presiden yang harus kita dukung penuh. Namun, saya minta seluruh kepala madrasah melakukan mitigasi masalah, terutama soal limbah makanan. Jangan sampai menumpuk menjadi sampah di lembaga keagamaan,” tegasnya.

​Ia menekankan pentingnya solusi kreatif dalam menangani sisa makanan di sekolah dengan jumlah siswa besar, seperti di MAN 1, MAN 2, maupun MTsN 1. Muhtasit mengingatkan agar penanganan limbah dilakukan secara alami dan sistematis agar lingkungan pendidikan tetap sehat dan kondusif.

“Setiap masalah pasti ada solusinya, dan setiap penyakit ada obatnya. Mari kita kawal program pemerintah ini dengan manajemen yang baik,” pungkasnya.

Sempat Terendam Banjir, Jalur KA Gubug-Karangjati, Selasa Sore Bisa Dilewati Kecepatan Terbatas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement