Uncategorized

Puasa Jadi ‘Self Control’ Terbaik di Era Digital

BERITASEMARANG.ID  – Di era modern, krisis terbesar manusia bukanlah kekurangan informasi, melainkan hilangnya pengendalian diri (self control). Manusia modern kerap terjebak dalam kondisi “autopilot”—selalu bereaksi cepat terhadap komentar, mengejar peluang tanpa henti, hingga akhirnya terjangkit penyakit psikologis: cemas, stres, hingga krisis makna hidup.

​Namun, sebuah ulasan mendalam dalam perspektif Psikologi Islam mengungkapkan bahwa solusi dari kekacauan mental ini ada pada ibadah yang dilakukan setiap tahun: Puasa.

​Bukan Sekadar Lapar, Tapi Manajemen Jiwa

​Dalam jurnal An-Nur (2025), akademisi Miskahuddin menyebutkan bahwa psikologi Islam melihat manusia bukan sekadar makhluk biologis, melainkan memiliki dimensi spiritual yang kompleks. Di dalamnya terdapat qalb (hati), nafs (jiwa), akal, dan ruh.

​”Mental yang bermasalah bukan sekadar gangguan psikologis, tapi adanya keguncangan internal yang berakar pada nilai ketuhanan,” tulisnya.

​Puasa hadir sebagai alat kendali. Secara bahasa, shiyam berarti imsak atau menahan diri. Di sinilah puasa berperan menyeimbangkan antara nafs (keinginan) dan akal. Tanpa kendali puasa, nafs cenderung membuat manusia agresif dan destruktif. Sebaliknya, puasa melatih hati sebagai “raja” dalam tubuh untuk membersihkan penyakit hasad (iri), sombong, dan riya.

Perkuat Transparansi, OJK dan SRO Tuntaskan 4 Agenda Reformasi Pasar Modal

​Puasa dan Konsep ‘Delay of Gratification’

​Menariknya, apa yang diajarkan Islam lewat puasa sejalan dengan konsep psikologi modern yang disebut delay of gratification—kemampuan menunda kepuasan sesaat demi tujuan yang lebih besar.

​Imam Al-Ghazali membagi level puasa menjadi tiga: Awam, Khusus, dan Khususul Khusus. Pada level tertinggi, seseorang tidak hanya menahan lapar, tapi mampu mengontrol setiap anggota tubuh, pikiran, dan raganya dari hal-hal negatif.

​Dalam dunia yang menuntut kita serba cepat, puasa mengajarkan stabilitas emosi. Saat dicela, kita punya hak membela diri, namun puasa melatih kita untuk diam dan berefleksi, bukan sekadar bereaksi. Itulah “perisai” mental yang sebenarnya.

​Belajar dari Rasa Lapar: Rahasia Mental Tangguh

​Mengapa kita harus lapar? Secara psikologis, ini disebut sebagai meaning-focused coping.

​Individu yang mampu memberi makna spiritual pada pengalaman sulit (seperti menahan lapar demi perintah Tuhan) cenderung memiliki mental yang lebih tangguh. Rasa lapar yang bersifat sementara menumbuhkan optimisme dan harapan bahwa “berbuka” akan segera tiba.

Perkuat Hubungan Industrial, CCEP Indonesia dan Serikat Pekerja Resmi Sepakati PKB 2026-2028

​Di tengah dunia yang terus memaksa kita bergerak tanpa arah, puasa adalah latihan tahunan untuk berhenti sejenak. Ia bukan sekadar ritual menahan haus, melainkan sistem pendidikan ruhani agar manusia kembali berdaulat atas dirinya sendiri.

Penasaran bagaimana cara memaksimalkan kualitas puasa agar berdampak pada kesehatan mental? Mulailah dengan tidak hanya menahan lapar, tapi juga melakukan ‘diet’ informasi dan emosi negatif hari ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement