Nasional

OJK: Ketahanan Perbankan Tetap Solid di Tengah Badai Geopolitik

​BERITASEMARANG.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kinerja industri perbankan nasional pada triwulan I-2026 diprediksi tetap tangguh dan berada di zona optimis. Meski dibayangi oleh tekanan makroekonomi global dan peningkatan tensi geopolitik, perbankan diyakini mampu mengelola risiko dengan baik.

​Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa optimisme ini tercermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026. Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) tercatat sebesar 56, yang menunjukkan persepsi optimis dari para pelaku industri.

​”Keyakinan ini didorong oleh proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan dan kemampuan bank dalam mengelola risiko, meskipun ada ekspektasi peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar,” ujar Dian dalam keterangan resminya, Senin (9/3).

​Berdasarkan survei yang melibatkan 93 bank (mewakili 94,17% total aset perbankan umum), terdapat perbedaan mencolok antara kondisi makroekonomi dan ekspektasi kinerja internal bank:

-. ​Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM): Berada di level 45 (zona pesimis). Hal ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan laju inflasi akibat faktor musiman (Ramadhan, Idul Fitri, dan Imlek) serta penghapusan diskon tarif listrik.

Ekspansi ke Sportainment, Sun Motor Group Resmikan Zing Padel Semarang: Standar Internasional dan Ramah Komunitas

-. ​Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK): Justru berada di level tinggi, yakni 67. Perbankan tetap percaya diri bahwa penyaluran kredit akan tumbuh, terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh 6,60% (yoy) per Januari 2026.

​Dari sisi mitigasi, Indeks Persepsi Risiko (IPR) tercatat sebesar 57, menandakan risiko masih sangat terkendali. Kualitas kredit (NPL) diperkirakan terjaga, dan likuiditas tetap mencukupi seiring dengan proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang lebih tinggi dibanding penyaluran kredit. ​OJK juga mencatat adanya tren long position pada valuta asing, di mana aset valas bank lebih besar dari kewajibannya, sehingga risiko nilai tukar dapat diredam.

​Dian Ediana Rae memberikan catatan khusus mengenai memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama pasca serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran yang memicu panic-selling di pasar saham Asia.

​”Situasi sulit ini harus kita gunakan untuk memperkuat reformasi di semua sektor. Kebijakan ekonomi perlu dirumuskan secara terpadu (cohesive) agar ekonomi Indonesia tetap dinamis dan berdaya saing,” tegasnya.

​Meski demikian, OJK optimistis ekonomi domestik tetap tumbuh solid berkat stimulus fiskal, kebijakan moneter yang akomodatif, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Sektor UMKM juga diproyeksikan akan mengambil porsi lebih besar dalam total penyaluran kredit pada awal tahun ini.

Perkuat Sinergi, Kemahasiswaan USM Gelar Dialog Bareng Ormawa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement