BERITASEMARANG.ID – Di tengah kepungan lumpur dan rusaknya infrastruktur pasca banjir besar yang melanda Sumatera Barat, secercah harapan muncul dari dunia akademik. Universitas Diponegoro (UNDIP) bergerak cepat mengirimkan “pasukan teknologi” melalui program UNDIP Peduli Bencana Sumatera untuk mengatasi salah satu masalah paling krusial di lokasi pengungsian: ketersediaan air minum layak konsumsi.
Inovasi di Garis Depan Bencana
Banjir hebat yang merendam pemukiman warga menyebabkan sumur-sumur penduduk tercemar dan jaringan pipa air bersih terputus total. Menanggapi situasi darurat ini, tim ahli UNDIP yang diketuai oleh Anggun Puspitarini Siswanto, S.T., Ph.D., merancang solusi praktis berupa unit pengolahan air minum portabel.
Sebanyak tiga unit alat canggih telah diberangkatkan menuju Padang pada Kamis (25/12). Alat ini bukan sekadar filter biasa, melainkan sebuah sistem pemurnian mandiri yang dirancang khusus untuk kondisi ekstrem pascabencana.
”Alat ini adalah wujud nyata komitmen UNDIP dalam menghadirkan solusi berbasis riset yang langsung menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat,” tegas Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. saat meninjau langsung kesiapan alat sebelum diberangkatkan.
Kecanggihan Teknologi dalam Genggaman
Meskipun bersifat portabel, spesifikasi teknologi yang diusung sangat mumpuni. Setiap unit dibekali dengan:
- Filtrasi Bertahap: Menyaring sedimen dan lumpur sisa banjir.
- Membran Reverse Osmosis (RO): Memastikan air bebas dari kontaminan mikroskopis.
- Disinfeksi Ultraviolet (UV): Membunuh bakteri dan virus berbahaya.
Kapasitas Produksi:
Setiap unit mampu memproduksi hingga 2.000 liter air minum per hari. Artinya, kehadiran tiga unit ini berpotensi mencukupi kebutuhan air minum ribuan warga terdampak setiap harinya tanpa harus menunggu perbaikan infrastruktur permanen.
Kolaborasi Lintas Generasi: Dosen & Mahasiswa
Program ini menjadi bukti sinergi antara pakar dan generasi muda. Di balik perencanaan teknis, terdapat deretan profesor dan dosen ahli seperti Prof. Dr. I Nyoman Widiasa dan Prof. Dr. Ing. Ir. Suherman.
Di sisi lain, belasan mahasiswa UNDIP terjun langsung dalam instalasi dan pendampingan teknis di lapangan. Bagi para mahasiswa, ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan “laboratorium kemanusiaan” untuk mengaplikasikan ilmu demi membantu sesama.
Harapan Baru untuk Warga
Penempatan unit-unit ini akan difokuskan pada titik-titik prioritas di lokasi bencana yang paling sulit menjangkau air bersih. Dengan teknologi ini, warga diharapkan dapat segera mengonsumsi air sehat, mencegah munculnya penyakit pascabencana, dan kembali menata kehidupan mereka dengan lebih kuat.
UNDIP membuktikan bahwa kampus tidak hanya menjadi menara gading, tetapi juga menjadi mitra strategis yang hadir di saat masyarakat sedang sangat membutuhkan.

Komentar