BERITASEMARANG.ID – Di ujung Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kabupaten Demak, sebuah rumah berdiri kokoh meski dikepung oleh hamparan air laut. Itulah rumah Pasijah, atau yang akrab disapa Mak Jah. Di saat ratusan tetangganya menyerah pada abrasi dan memilih relokasi, Mak Jah memilih jalan sunyi: bertahan dan melawan terjangan ombak dengan “benteng” hijau bernama mangrove.
Benteng Hijau di Garis Depan Abrasi
Desa Bedono kini menjadi potret nyata krisis iklim di pesisir utara Jawa (Pantura). Sejak tahun 1999, tercatat sebanyak 268 Kepala Keluarga (KK) harus meninggalkan tanah kelahiran mereka akibat banjir rob yang tak kunjung surut. Garis pantai terus mundur, menelan rumah-rumah dan memori kolektif warga.
Namun, bagi Mak Jah, mangrove adalah harapan. Ia secara konsisten menanam dan merawat mangrove di sekeliling rumahnya. Upaya ini bukan sekadar aktivitas menanam pohon, melainkan upaya menciptakan pelindung alami yang mampu meredam energi ombak dan memperlambat abrasi.
Dampak Ekologis: Mangrove yang dirawat Mak Jah kini menjadi rumah bagi burung-burung, ikan, dan kepiting rajungan.
Dampak Sosial: Ketangguhannya membuktikan bahwa pengetahuan lokal memiliki peran vital dalam mitigasi bencana.
Laboratorium Hidup FSM UNDIP: Dari Inspirasi ke Inovasi
Kisah keteguhan Mak Jah ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menarik perhatian dunia sains. Sejak tahun 2022, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro melalui Cluster for Paleolimnology (CPalim) resmi menjadikan Desa Bedono sebagai Living Lab (Laboratorium Hidup).
Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, M.App.Sc., inisiatif ini bertujuan mengembangkan solusi berbasis alam atau Nature-Based Solutions (NbS).
”Spirit Mak Jah adalah pengingat bahwa upaya konservasi tidak bisa dilakukan dari balik meja saja. Harus ada kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah,” ujar Prof. Tri Retnaningsih.
Memperkuat Ketahanan Sosial-Ekologis
Melalui konsep Living Lab, Bedono kini bertransformasi menjadi ruang dialog lintas sektor. Keahlian ilmiah dari FSM UNDIP dipadukan dengan kearifan lokal Mak Jah untuk menciptakan strategi adaptasi yang berkelanjutan.
Fokus utama kolaborasi ini meliputi:
Riset Paleolimnologi: Mempelajari sejarah perubahan lingkungan untuk memprediksi masa depan pesisir.
Mitigasi Berbasis Ekosistem: Memperkuat sabuk hijau mangrove sebagai solusi jangka panjang melawan rob.
Pemberdayaan Masyarakat: Mengedukasi pentingnya menjaga ruang hidup di tengah ancaman perubahan iklim.
Kisah Bedono adalah pengingat bahwa krisis lingkungan adalah persoalan kemanusiaan. FSM UNDIP berharap model Living Lab ini dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya di Indonesia.
Di antara deburan ombak yang terus mengancam, sosok Mak Jah dan kehadiran para ilmuwan UNDIP menjadi simbol bahwa di tengah krisis sekalipun, harapan tetap bisa tumbuh subur—seperti akar mangrove yang mencengkeram bumi di tengah lautan.

Komentar