Jateng

Dulu Tertinggal, Kini Mandiri: Kisah “Ajaib” Kaliwedi dan Jatibatur Ubah Jalan Rusak Jadi Ladang Rupiah

BERITASEMARANG.ID  – Wajah Desa Kaliwedi dan Desa Jatibatur di Kabupaten Sragen kini berubah total. Tak lagi menyandang status desa tertinggal yang sunyi, kedua desa ini bertransformasi menjadi desa mandiri dengan perputaran ekonomi mencapai miliaran rupiah. Kuncinya? Kolaborasi apik antara inovasi desa dan kucuran bantuan infrastruktur yang tepat sasaran.

​Kaliwedi: Dari Rp 800 Juta Menuju Rp 1,3 Miliar

​Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Daryono, Desa Kaliwedi di Kecamatan Gondang membuktikan bahwa infrastruktur adalah “nyawa” bagi ekonomi. Hanya dalam satu tahun, status desa ini melesat dari Desa Maju (2024) menjadi Desa Mandiri (2025).

​Titik baliknya terjadi saat bantuan keuangan (Bankeu) Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp 100 juta digunakan untuk pengaspalan jalan desa. Dampaknya instan dan luar biasa:

 

    • Ledakan Pengunjung: Destinasi wisata Waterboom Jambangan Permai yang dikelola BUMDes kebanjiran tamu, melonjak dari 39 ribu menjadi 80 ribu orang per tahun.
    • Omzet Meroket: Pendapatan wisata naik tajam dari Rp 800 juta menjadi Rp 1,3 miliar pada tahun 2025.
    • Efek Domino: Distribusi padi organik, sayur-mayur, hingga hasil kebun melon kini jauh lebih cepat karena akses jalan yang mulus.

​“Anggaran harus terbuka. Warga harus tahu,” tegas Daryono, menekankan bahwa transparansi adalah pondasi utama kemajuan desanya.

Tradisi Bodo Ketupat Dusun Juwono: Rawat Guyub lan Spiritualitas ing Tengah Geliat Kota Semarang

​Jatibatur: Petani “Naik Kelas”, Panen 3 Kali Setahun

​Kisah serupa datang dari Desa Jatibatur, Kecamatan Gemolong. Berkat perbaikan jalan dan pembangunan sumur bor, sektor pertanian yang dulunya lesu kini bergairah.

​Kepala Desa Jatibatur, Sutardi, mengungkapkan bahwa bantuan infrastruktur mengubah pola hidup petani. “Dulu petani hanya panen sekali setahun, sekarang bisa panen hingga tiga kali,” ujarnya. Keberadaan objek wisata Sendang Kun Gerit pun semakin moncer dan menjadi motor penggerak Pendapatan Asli Desa (PADes).

​Jawa Tengah: Era Desa Mandiri, Nol Desa Sangat Tertinggal

​Kesuksesan di Sragen hanyalah potret kecil dari keberhasilan masif di Jawa Tengah. Berdasarkan data Indeks Desa 2025, provinsi ini mencatatkan sejarah:

      1. Desa Mandiri: 2.208 desa.
      2. Desa Maju: 3.921 desa.
      3. Desa Sangat Tertinggal: 0 (Sudah tidak ada).

​Kepala Dispermadesdukcapil Jateng, Nadi Santoso, menyebut capaian ini adalah hasil pendekatan kolaboratif yang didorong Gubernur Ahmad Luthfi. “Membangun Jawa Tengah itu dimulai dari desa. Ketika desa mandiri, ekonomi daerah ikut tumbuh,” jelas Nadi.

​Pemerintah Provinsi pun tidak main-main dalam pendanaan. Bankeu desa terus meningkat, dari Rp 1,6 triliun (2024) menjadi Rp 1,7 triliun (2025)—sebuah angka yang hampir menyaingi Dana Desa dari pemerintah pusat.

Semarang “Panen” Event Olahraga Nasional Sepanjang April 2026, Cek Jadwal Lengkapnya

Pada tahun 2026, Desa Kaliwedi dijadwalkan menerima tambahan Bankeu sebesar Rp 400 juta. Dana ini akan difokuskan untuk membangun jalan usaha tani menuju kawasan agrowisata, memastikan rantai ekonomi dari sawah ke meja makan (dan ke saku warga) berjalan lebih cepat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement