BERITASEMARANG.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah melaporkan perkembangan menggembirakan terkait kondisi sosial-ekonomi wilayah tersebut. Hingga September 2025, angka kemiskinan di Jawa Tengah tercatat mengalami penurunan di tengah pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi yang terkendali.
Kepala BPS Jawa Tengah, Dr. Ali Said, M.A., mengungkapkan bahwa persentase penduduk miskin pada September 2025 berada di angka 9,39%, turun sebesar 0,09% dibandingkan Maret 2025, dan menyusut 0,19% dibandingkan September 2024. Secara kuantitas, jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 8.000 orang sejak Maret 2025, menjadi total 3,34 juta orang.
Pertumbuhan Ekonomi dan Kendali Inflasi
Keberhasilan penurunan angka kemiskinan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada Triwulan III-2025 yang tumbuh sebesar 5,37% (y-on-y) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kondisi ekonomi yang relatif terkendali, pengangguran yang menurun, serta meningkatnya produksi padi menjadi faktor utama. Selain itu, inflasi tahunan (y-on-y) Jawa Tengah berada pada angka stabil 2,65%,” ujar Ali Said dalam laporannya.
Garis Kemiskinan dan Konsumsi Rumah Tangga
BPS mencatat adanya kenaikan Garis Kemiskinan (GK) sebesar 8,08% dibandingkan Maret 2025. Saat ini, standar garis kemiskinan di Jawa Tengah berada di angka Rp570.870 per kapita per bulan.
Jika dikonversikan ke dalam skala rumah tangga (dengan asumsi rata-rata 4,48 anggota keluarga), maka sebuah rumah tangga dikategorikan miskin jika pengeluaran per bulannya berada di bawah Rp2.557.498.
Penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan masih didominasi oleh komoditas makanan, yaitu:
- Beras: Menyumbang 21,70%.
- Rokok Kretek Filter: Menjadi penyumbang terbesar kedua.
- Perumahan: Sebagai penyumbang terbesar dari kelompok non-makanan (7,21%).
Terdapat perbedaan karakteristik konsumsi antara desa dan kota. Di perkotaan, roti memberikan sumbangan besar terhadap garis kemiskinan, sementara di pedesaan, kopi bubuk dan kopi instan memiliki pengaruh yang lebih signifikan.
Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan
Kabar baik lainnya datang dari Indeks Kedalaman Kemiskinan yang turun menjadi 1,507 dan Indeks Keparahan Kemiskinan yang membaik dari 0,354 menjadi 0,338. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin kini semakin mendekati garis kemiskinan, dan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin sendiri semakin mengecil.
Meskipun kemiskinan di perkotaan (8,99%) lebih rendah dibanding pedesaan (9,87%), penurunan angka kemiskinan di desa tercatat lebih progresif dalam satu tahun terakhir.
Ketenagakerjaan
Dari sisi lapangan kerja, sektor Pertanian, Industri Pengolahan, dan Perdagangan tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Saat ini, dari angkatan kerja yang ada, sebanyak 96 dari 100 orang telah terserap sebagai pekerja, dengan mayoritas (71%) bekerja 35 jam atau lebih per minggu.
“Penurunan angka kemiskinan dan perbaikan indeks keparahan ini menunjukkan bahwa kebijakan penanggulangan kemiskinan di Jawa Tengah mulai tepat sasaran, namun karakteristik spesifik tiap wilayah tetap perlu menjadi pertimbangan prioritas ke depan,” tutup Ali Said.

Komentar