SEMARANG – Bank Indonesia Jawa Tengah terus melakukan beberapa langkah strategis dalam pengendalian inflasi, diantaranya mendorong diversifikasi pangan hingga memangkas rantai pasok beras.
Rahmat Dwisaputra selaku Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng mengatakan, pertumbuhan ekonomi provinsi Jawa Tengah tercatat 5,37 persen pada triwulan III, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,04 persen.
“Kami selalu menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif. BI bersama pemerintah daerah siap memitigasi setiap potensi lonjakan permintaan, termasuk melalui pendampingan produksi dan pengawasan stok di lapangan,” katanya dalam kegiatan media briefing di Hotel Tentrem Semarang, Rabu (19/11).
Rahmat menambahkan, untuk menjaga stabilitas harga pangan, BI Jateng mendorong diversifikasi konsumsi protein masyarakat melalui kampanye “Gemar Makan Ikan.
” Kami bersama pemerintah provinsi akan selalu menyiapkan langkah mitigasi. Fokus kami memastikan pasokan aman, harga terjangkau, distribusi lancar dan komunikasi berjalan baik,” tambah Rahmat.
Langkah tersebut dilakukan, untuk mengurangi ketergantungan pada telur dan daging ayam ras yang kerap memicu gejolak harga.Edukasi dan sosialisasi dilaksanakan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng.
“Bank Indonesia juga meningkatkan efektivitas pengendalian inflasi beras. Pengendalian harga cabai turut dilakukan melalui pengembangan produk olahan seperti cabai kering, pasta cabai, dan pasta bawang agar harga lebih stabil saat terjadi lonjakan produksi,” jelasnya.
Dari data yang disampaikan, inflasi Provinsi Jateng pada Oktober 2025 tercatat 0,40 persen (mtm). Sedang secara tahunan, inflasi Jateng mencapai 2,86 persen (yoy), dan secara year-to-date sebesar 2,01 persen

Komentar