BERITASEMARANG.ID – Kota Semarang kini tak lagi sekadar “pasrah” pada pepatah air mencari jalannya sendiri. Pasca hantaman banjir besar periode 2024-2025, Ibu Kota Jawa Tengah ini melakukan transformasi radikal. Bukan dengan menambah beton secara membabi buta, melainkan dengan “berdamai” melalui prinsip fisika yang cerdas.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa paradigma pemerintah telah bergeser. “Kita tidak lagi sekadar melawan air dengan mesin, tapi kita mengelola perilakunya. Ini soal kearifan rekayasa, bukan sekadar adu kekuatan,” ujarnya.
Berikut adalah tiga pilar utama transformasi Semarang yang mengubah ancaman menjadi sistem yang terkendali:
1. Kaligawe: Dari “Leher Botol” Menjadi Arteri Raksasa
Salah satu terobosan paling mencolok adalah pelebaran saluran di kawasan Kaligawe. Saluran yang semula hanya selebar 10 meter, kini diekspansi menjadi 40 meter—empat kali lipat dari ukuran semula.
- Logika Fisika: Seperti selang taman yang sempit, saluran lama menciptakan tekanan tinggi dan kecepatan aliran yang liar, sehingga mudah meluap saat ada hambatan kecil.
- Solusinya: Dengan ruang yang lebih luas, volume air yang besar bisa mengalir lebih tenang dan lancar tanpa perlu “berebutan tempat”. Risiko sumbatan akibat sedimentasi pun berkurang drastis karena tekanan air yang lebih stabil.
2. Duet Maut: Polder “Pasif” dan Pompa “Aktif”
Semarang kini menerapkan sistem pertahanan berlapis dengan mengombinasikan pengerukan puluhan umpung-umpung (waduk mini) dan penempatan 220 unit pompa strategis.
- Polder sebagai “Ember” Raksasa: Berfungsi menahan beban air hujan sementara (energi diam), mencegah air langsung menyerbu saluran utama secara bersamaan.
- Pompa sebagai “Eksekutor”: Di titik rawan seperti Tawang Mas dan Peterongan, pompa bekerja memindahkan air dari polder ke laut secara cepat untuk meminimalkan durasi genangan.
- Sinergi Instansi: Langkah ini didukung penuh oleh kolaborasi lintas sektor antara BWS, BPJN, hingga TNI untuk memastikan mesin-mesin ini bekerja harmonis saat cuaca ekstrem tiba.
3. Efek Domino: Stabilitas Ekonomi dan Investasi
Transformasi ini bukan sekadar tentang jalanan yang kering, melainkan tentang ketahanan kota secara menyeluruh.
-
- Efisiensi Energi: Mengandalkan polder dan saluran lebar jauh lebih hemat energi dibandingkan terus-menerus memacu pompa listrik berdaya tinggi.
- Iklim Investasi: Dengan berkurangnya ketidakpastian banjir, pelaku usaha kini lebih berani menanamkan modal di Semarang, dan masyarakat bisa beraktivitas tanpa kecemasan setiap kali mendung menggelayut.
“Satu kantong plastik bisa merusak seluruh perhitungan fisika yang cermat ini.” — Agustina Wilujeng
Tantangan Terbesar: Hukum Kesadaran
Meski infrastruktur telah ditingkatkan secara masif, Wali Kota mengingatkan bahwa musuh terbesar bukanlah hujan, melainkan sampah. Rekayasa teknik tercanggih sekalipun akan lumpuh jika saluran air disumbat oleh kelalaian manusia.
Kini, Semarang menjadi laboratorium hidup bagi kota-kota pesisir lainnya di Indonesia. Pelajarannya jelas: banjir bisa dijinakkan ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kolaborasi sosial.

Komentar