BERITASEMARANG.ID – Kabar gembira datang dari dunia medis dan teknologi kesehatan Indonesia. Tim peneliti dari Universitas Diponegoro (UNDIP) berkolaborasi dengan Poltekkes Kemenkes Surakarta dan Mahidol University Thailand sukses mengembangkan prototipe telapak kaki palsu (SACH Foot) generasi terbaru yang diklaim lebih ringan, awet, dan nyaman bagi penyandang disabilitas.
Inovasi ini lahir dari kegelisahan terhadap produk kaki palsu lokal yang selama ini sering mengalami kendala teknis, seperti karet yang cepat aus, mudah patah di area jari, hingga ketahanan yang buruk terhadap cuaca hujan.
Solusi untuk Negara Berkembang
Penelitian bertajuk Development and Clinical Testing of Solid Ankle Cushion Heel (SACH Foot) for Low- and Middle-Income Countries ini dipelopori oleh Agus Nugroho, dosen Ortotik Prostetik Poltekkes Surakarta, di bawah bimbingan pakar robotika UNDIP, Prof. Dr. Rifky Ismail.
Berbeda dengan model konvensional, telapak kaki palsu ini menggunakan desain khusus:
-
- Material: Keel berbahan polimer canggih yang dibalut karet komersial berkualitas.
- Teknologi: Menggunakan simulasi Finite Element Analysis dari PUIPT CBIOM3S UNDIP untuk memastikan kekuatan struktur.
- Keunggulan: Lebih ringan, meminimalisir konsumsi energi pengguna, dan tahan terhadap cuaca ekstrem.
”Hasilnya, pasien amputasi bawah lutut merasakan langkah kaki yang jauh lebih ringan dan nyaman. Ini adalah langkah besar untuk kemandirian alat kesehatan kita,” ujar tim peneliti.
Diuji oleh Pakar Dunia
Kualitas inovasi ini tidak main-main. Prototipe ini telah diuji secara klinis pada 13 pasien amputasi bawah lutut dengan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan, riset ini telah dipertahankan dalam sidang disertasi di Mahidol University, Thailand pada 25 Desember 2025 lalu.
Tak tanggung-tanggung, penguji eksternal yang dihadirkan berasal dari institusi bergengsi dunia, yakni Dr. Gary Guerra (St. Mary’s University, USA) dan Prof. Surapong Chatpun (Chulalongkorn University, Thailand).
Siap Merambah Pasar ASEAN
Kerja sama lintas negara ini tidak hanya berhenti di meja laboratorium. Rencananya, telapak kaki palsu kolaboratif ini akan segera diproduksi secara massal dan dipasarkan ke seluruh wilayah ASEAN.
Hadirnya produk ini diharapkan mampu menjadi solusi terjangkau bagi masyarakat luas, khususnya di negara berkembang, tanpa harus mengorbankan kualitas dan kenyamanan pengguna.

Komentar