BERITASEMARANG.ID – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali mengukuhkan taringnya di kancah internasional. Melalui forum UNESCO Internet for Trust (I4T) Global Knowledge Network, UNDIP memimpin inisiatif strategis dalam mengatur tata kelola platform digital di Asia Tenggara.
Dalam konferensi internasional 2026 International Conference on Digital Platform Governance yang digelar di Universitas Pretoria, Afrika Selatan, UNDIP memaparkan hasil riset mendalam mengenai peta kebijakan digital di tiga negara: Indonesia, Singapura, dan Filipina.
Tantangan Ruang Digital: Dari ‘Istilah Abu-abu’ hingga Operasi Pengaruh
Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, PhD, hadir sebagai pembicara kunci secara daring. Ia menyoroti sejumlah masalah krusial yang dihadapi ekosistem digital saat ini:
- Regulasi Multi-tafsir: Penggunaan istilah hukum yang kabur sehingga rentan disalahgunakan.
- Influence Operations: Munculnya jejaring operasi pengaruh yang terorganisir dan sistematis.
- Kesenjangan Literasi: Akses internet yang meluas belum dibarengi dengan kecakapan literasi digital masyarakat.
- Masalah Spesifik Negara: * Indonesia: Pendekatan regulasi yang cenderung represif dan kendala keberagaman bahasa.
- Filipina: Tumpang tindih kewenangan antarlembaga.
- Singapura: Ketergantungan pada otoritas terpusat yang berisiko pada penghapusan konten secara berlebihan.
UNDIP Jadi ‘Nahkoda’ Panduan Digital Asia Tenggara
Sebagai bagian dari Internet for Trust Global Knowledge Network, UNDIP dipercaya memimpin proyek penyusunan Panduan Implementasi Tata Kelola Platform Digital UNESCO untuk konteks Asia Tenggara.
Panduan ini bertujuan untuk:
-
- Menjadi kompas bagi pemerintah dan regulator dalam membuat kebijakan.
- Mendorong transparansi dan akuntabilitas platform digital.
- Melindungi hak asasi manusia dan ruang demokrasi di internet.
”Partisipasi ini adalah wujud nyata kontribusi UNDIP pada SDGs 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh). Kami ingin memastikan ruang digital bukan hanya inklusif, tapi juga aman dan demokratis,” ujar Wijayanto.
Tuan Rumah Pertemuan Regional April 2026
Langkah konkret selanjutnya, Universitas Diponegoro dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan penting pada awal April 2026. Pertemuan ini akan mempertemukan para aktor kunci, akademisi, dan masyarakat sipil dari seluruh kawasan untuk menguji coba panduan yang tengah disusun.
Keberhasilan UNDIP dalam memimpin proyek internasional ini membuktikan bahwa institusi pendidikan Indonesia mampu menjadi pemain kunci dalam diskursus kebijakan global, sekaligus penjaga gawang kepentingan publik di era disrupsi digital.

Komentar