BERITASEMARANG.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat inflasi tahunan (year-on-year) pada Januari 2026 sebesar 2,83 persen. Meski secara tahunan mengalami kenaikan, Jawa Tengah justru mencatatkan deflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,35 persen pada awal tahun ini.
Statistisi Ahli Madya BPS Jateng, Wisnu Nurdiyanto, mengungkapkan bahwa pemicu utama inflasi tahunan adalah kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga. Hal ini disebabkan oleh fenomena low base effect atau basis angka yang rendah pada tahun sebelumnya.
”Inflasi ini didorong oleh diskontinuasi kebijakan diskon listrik sebesar 20 persen yang sempat diberlakukan pada awal 2025. Akibatnya, ketika dibandingkan dengan Januari 2026, terjadi kenaikan tarif yang cukup signifikan,” jelas Wisnu dalam rilis resminya yang disampaikan secara daring, Senin (2/2/2026).
Selain faktor energi, kenaikan harga emas perhiasan menempatkan kelompok perawatan pribadi sebagai penyumbang inflasi terbesar kedua. Disusul kemudian oleh sektor penyedia makanan dan minuman (restoran) yang dipicu oleh naiknya harga nasi dengan lauk pauk.
Secara spasial, Kota Semarang mencatatkan inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,29 persen, sementara Kabupaten Wonogiri menjadi wilayah dengan inflasi terendah, yakni 2,30 persen.
Kabar baik datang dari kelompok pangan. Pada Januari 2026, Jawa Tengah mengalami deflasi bulanan yang cukup dalam berkat turunnya harga sejumlah komoditas hortikultura. Cabai merah, bawang merah, cabai rawit, dan telur ayam ras menjadi motor utama penekan harga di pasar.
”Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi sebesar -0,51 persen secara bulanan. Ini menunjukkan pasokan pangan relatif terjaga di awal tahun,” tambah Wisnu.
Di sektor kesejahteraan produsen, Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah pada Januari 2026 tercatat sebesar 114,75. Angka ini mengalami penurunan sebesar 2,4 persen dibandingkan Desember 2025 yang berada di level 117,57.
Penurunan NTP ini dipicu oleh merosotnya indeks harga yang diterima petani (It) yang lebih cepat dibandingkan indeks harga yang dibayar petani. Penurunan terdalam terjadi pada subsektor hortikultura dan peternakan.
”Turunnya harga komoditas seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, serta daging ayam ras di tingkat petani menjadi penyebab utama terkoreksinya NTP,” ungkapnya.
Meski demikian, beberapa subsektor masih menunjukkan tren positif. Petani tanaman pangan (kacang hijau dan ketela pohon), perkebunan rakyat (kopi), serta nelayan tangkap masih menikmati kenaikan indeks harga hasil produksi mereka.
Ringkasan Data Januari 2026:
- Inflasi Tahunan (y-on-y): 2,83%
- Deflasi Bulanan (m-to-m): 0,35%
- Komoditas Utama Inflasi: Tarif Listrik, Emas Perhiasan, Beras.
- Komoditas Utama Deflasi: Cabai Merah, Bawang Merah, Cabai Rawit.
- Nilai Tukar Petani (NTP): 114,75 (Turun 2,4%)

Komentar