BERITASEMARANG.ID – Dunia hari ini bergerak dengan kecepatan eksponensial. Penetrasi teknologi digital, algoritma artificial intelligence (AI) yang kian intuitif, hingga globalisasi telah meruntuhkan sekat-sekat kehidupan. Namun di balik kecanggihannya, era yang disebut sosiolog Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity (modernitas cair) ini membawa tantangan serius bagi generasi muda: krisis spiritualitas, polarisasi sosial, hingga disorientasi moral.
Menanggapi fenomena tersebut, pakar manajemen pendidikan sekaligus Dosen S2 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Dr. NAN Murniati, M.Pd., menegaskan bahwa momentum Hari Lahir Pancasila harus menjadi alarm kesadaran. Menurutnya, Pancasila tidak boleh lagi sekadar dirayakan dengan upacara seremonial yang kaku atau diletakkan di atas menara gading.
”Pancasila harus ditemukan kembali hakikatnya—bukan sebagai dogma masa lalu, melainkan sebagai jangkar eksistensial yang menjaga arah hidup generasi Gen Z dan Alpha hari ini,” ujar Dr. NAN Murniati dalam keterangannya.
Dr. NAN Murniati menyoroti bagaimana ruang digital yang menjadi rumah kedua bagi digital natives kini didominasi oleh budaya konsumerisme, glorifikasi pencapaian instan, dan jebakan echo chamber (bilik gema) di media sosial. Kondisi ini diperparah oleh infiltrasi nilai transnasional yang tidak tersaring, mulai dari gaya hidup ultraliberal hingga radikalisme eksklusif.
”Ketika anak muda kehilangan pegangan ideologis, mereka akan cerdas secara digital namun gagap memaknai esensi kemanusiaan dan kebangsaan. Jika dibiarkan, bonus demografi yang digadang-gadang menuju Indonesia Emas justru bisa berubah menjadi bencana sosial,” cetusnya.
Untuk itu, Dr. NAN Murniati mengajak masyarakat melakukan dekonstruksi cara memandang Pancasila agar setiap silanya dapat “berbicara” dalam bahasa dan realitas yang dipahami generasi hari ini:
- Sila ke-1 (Ketuhanan Yang Maha Esa): Menjadi jangkar spiritualitas universal di tengah krisis kesehatan mental (mental health). Ini adalah kesadaran moral bahwa setiap ketikan jemari di media sosial harus dipertanggungjawabkan secara etis kepada Tuhan.
- Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Menjadi antitesis dari dehumanisasi era AI. Beradab hari ini berarti menolak perundungan siber (cyberbullying) dan menggunakan teknologi untuk mengangkat derajat sesama.
- Sila ke-3 (Persatuan Indonesia): Menjadi komitmen kolektif di tengah polarisasi digital untuk menjaga integrasi bangsa dari ancaman hoaks dan propaganda.
- Sila ke-4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan…): Diaktualisasikan lewat budaya demokrasi yang sehat di kolom komentar, forum diskusi daring, dan petisi digital dengan berargumen berbasis data.
- Sila ke-5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Menjadi kompas bagi anak muda untuk melahirkan inovasi sosial, seperti membangun platform edutech gratis untuk anak pedalaman atau teknologi pertanian berbasis IoT bagi petani lokal.
Mengingat model indoktrinasi masa lalu yang bersifat top-down sudah tidak relevan, Dr. NAN Murniati menawarkan dua strategi kontekstualisasi yang organik dan partisipatif:
1. Optimalisasi Dunia Pendidikan melalui P5
Mengintegrasikan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan metode problem-based learning. Anak muda diajak langsung turun ke lapangan untuk melihat realitas sosial, mengidentifikasi masalah, dan merumuskan solusi konkret berbasis keilmuan.
2. Kolaborasi dengan Budaya Populer dan Konten Kreator
Mengemas nilai-nilai gotong royong dan toleransi melalui medium yang digandrungi generasi muda, seperti musik, film, animasi, dan konten kreatif. Narasi visual yang estetis dan subtil akan membuat Pancasila diadopsi secara sukarela sebagai gaya hidup (lifestyle) baru yang keren.
Di akhir keterangannya, pakar pengembangan SDM pendidikan ini menegaskan bahwa modernitas bukanlah musuh yang harus ditakuti atau dihindari. Bangsa Indonesia tidak mungkin memutar jarum jam untuk kembali ke masa lalu.
”Tugas generasi hari ini adalah memastikan kapal besar bernama Indonesia memiliki jangkar yang kuat. Ketika generasi muda mampu menguasai sains tingkat tinggi dan mahir menavigasi teknologi masa depan, namun hatinya tetap bergetar oleh nilai Pancasila, saat itulah Pancasila benar-benar membumi,” pungkasnya optimis.
Dengan Pancasila sebagai jangkar, badai modernitas diyakini tidak akan menghancurkan Indonesia, melainkan menjadi angin buritan yang mendorong bangsa ini melompat maju memimpin peradaban dunia.
Penulis : Dr. NAN Murniati, M.Pd Dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS bidang Keahlian Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan

Komentar