Ekonomi Semarang

Modal Vespa dan Do’a Orang Tua: Dua Saudara Bangun Moko Garment dari Kamar 3×3, Jadi Pionir Seragam Premium Berstandar Internasional

BERITASEMARANG.ID – Sukses sebuah bisnis sering kali diukur dari besarnya modal kapital atau kecanggihan teknologi yang dimiliki. Namun, bagi pasangan kakak-beradik alumnus Universitas Diponegoro (Undip), Budi Turmoko (38) dan Ryan Muhammad (35), ada dua pondasi tak kasat mata yang jauh lebih kuat di balik berdirinya PT Moko Garment Indonesia, kerja keras tanpa batas dan ketukan pintu langit melalui doa orang tua.

​Kini, perusahaan konveksi yang berpusat di Jl. Mangkang Wetan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang tersebut telah menjelma menjadi salah satu produsen seragam (uniform) premium terbesar di Jawa Tengah. Memiliki tiga gedung operasional dengan kapasitas produksi mencapai 10.000 pcs per bulan dan mempekerjakan hampir 100 karyawan, Moko Garment bahkan telah mengekspor produknya ke berbagai negara di Asia dan Eropa. Namun, siapa sangka jika imperium bisnis ini bermula dari sebuah kamar sempit dan penolakan yang bertubi-tubi.

​Kerja Keras dari Kamar 3 x 3 Meter

​Moko Garment didirikan pada tahun 2012. Alih-alih meneruskan bisnis keluarga, Budi (lulusan Ekonomi Undip 2011) dan Ryan (lulusan Fisip Undip 2012) memilih merangkak dari nol. Modal awal mereka sangat minim, yakni Rp5 juta hasil merelakan sepeda motor Vespa kesayangan milik Budi untuk dijual.

​Uang tersebut kemudian dibelikan dua unit mesin jahit. Untuk menggenapinya, mereka nekat bernegosiasi dengan toko mesin agar bisa mengutang satu unit mesin lagi dengan sistem cicil tempo. Tanpa memiliki dasar keahlian menjahit atau latar belakang industri garmen, keduanya mengandalkan manajemen profesional dan tekad yang kuat.

20% Lulusan SCU Sudah Kerja Sebelum Wisuda, Gaji Pertama Tembus Rp6,2 Juta

​”Kami mulai dari kamar ukuran 3 x 3 meter dengan merekrut dua orang karyawan awal. Dulu, kami bergerak door-to-door menawarkan proposal ke perusahaan-perusahaan. Jangankan bertemu manajemen, baru memegang gagang pintunya saja kami sudah sering diusir dan ditolak,” kenang Ryan Muhammad, Direktur PT Moko Garment Indonesia.

​Bukannya patah arang, penolakan tersebut justru membakar semangat kerja keras mereka. Lewat strategi digital marketing yang konsisten dan fokus membidik segmen pasar menengah ke atas dengan material premium, keadaan perlahan berbalik. Kini, ratusan korporasi besar justru datang mengantre untuk dibuatkan seragam oleh Moko Garment.

​The Power of Doa: Rahasia Sukses dan Keberkahan Bisnis

​Di balik semua strategi bisnis, manajemen sistem komputerisasi yang canggih, dan jaringan pasar yang luas, Ryan menegaskan bahwa faktor terbesar keberhasilan Moko Garment terletak pada aspek spiritual.

​”Kalau ditanya dari mana semua ini bermula, selain kerja keras tim dan karyawan, yang paling utama dan nomor satu adalah dari doa orang tua serta do’a anak-anak yatim piatu. Itu bensin utama kami,” ungkap Ryan dengan penuh kesungguhan.

Ofero Tebar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026: Cashback Rp4 Juta hingga Lelang Mulai Rp 0

​Sadar bahwa di dalam setiap rezeki yang mereka terima ada hak orang lain, Moko Garment menerapkan kebijakan manajemen yang unik. Setiap bulan, perusahaan secara rutin memotong 5% dari total keuntungan bersih (profit) untuk dialokasikan langsung kepada kaum dhuafa dan anak yatim piatu.

​Bahkan, ketika perusahaan menggelar acara seremonial seperti penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha, seluruh hasilnya dideikasikan untuk kebahagiaan para karyawan dan warga sekitar, bukan untuk pemilik perusahaan (owner).

​Memanusiakan Karyawan dan Warga Sekitar

​Prinsip “jangan pernah menyakiti orang lain dan biarkan bisnis mengalir dengan jujur” tecermin dari bagaimana mereka mengelola SDM. Sekitar 60% karyawan Moko Garment diambil dari warga lokal di sekitar Mangkang. Perusahaan menyediakan pelatihan menjahit gratis tanpa biaya bagi warga yang tidak punya keahlian hingga mereka terampil dan siap kerja.

​Bagi karyawan senior yang produktivitas fisiknya mulai menurun atau terkendala transportasi, Moko Garment tidak serta-merta melakukan PHK. Manajemen memberikan kelonggaran sistem kerja di mana mereka bisa mengambil bahan dan menyetor jahitan seminggu sekali ke pabrik agar tetap memiliki penghasilan mandiri.

Delegasi UNDIP Raih Medali di ONMIPA-PT Tingkat Nasional 2026

​”Target kami bukan sekadar menjadi perusahaan garmen yang mencari untung, tetapi menjadi laboratorium bisnis yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan siswa-siswa SMK yang magang di sini. Kami ingin pondasi bisnis ini berkah hingga ke depan,” tutup Ryan.

​Berawal dari sebuah pengorbanan motor Vespa, kerja keras dua bersaudara ini kini terbayar lunas. Moko Garment menjadi bukti nyata bahwa kombinasi antara kerja keras yang terukur dan restu orang tua mampu mengubah usaha kamar kos menjadi bisnis berkelas dunia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement