BERITASEMARANG.ID – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXVIII tidak boleh sekadar menjadi sarana formalitas mengejar sertifikat atau syarat menduduki jabatan. Para peserta dituntut membawa pulang terobosan kreatif yang mampu mentransformasi birokrasi di instansi masing-masing.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka PKN Tingkat II di Kantor BPSDMD Jateng, Semarang, Senin (3/8). Acara ini diikuti 51 peserta yang berasal dari kementerian/lembaga pusat hingga berbagai pemerintah daerah di Indonesia.
”Banyak teori kepemimpinan, tetapi bagaimana kita mendengar, melihat, dan bekerja, itu yang paling efektif. Harapannya setelah PKN, mereka bisa mengubah birokrasi atau punya terobosan ide kreatif agar daerahnya lebih maju,” ujar Luthfi.
Di tengah tekanan fiskal dan geopolitik yang tak tentu, Luthfi meminta para pejabat tidak bergaya ala superman yang merasa bisa menyelesaikan persoalan sendirian. Pemimpin masa kini wajib membangun super team dan memperkuat kolaborasi lintas instansi maupun lintas daerah—seperti yang diterapkan Jateng dalam mempertahankan status lumbung pangan nasional dengan produksi 9,5 juta ton gabah pada 2025.
Sementara itu, Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran LAN RI, Erna Erawati, menambahkan bahwa masyarakat saat ini tidak melihat seberapa banyak program dibuat, melainkan eksekusi nyata yang menyelesaikan masalah. Pemimpin dituntut memiliki kepemimpinan adaptif, berorientasi dampak, dan mampu berkolaborasi.

Komentar