BERITASEMARANG.ID – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI resmi berakhir di Kota Semarang. Provinsi Kalimantan Timur keluar sebagai juara umum dalam ajang yang diikuti sekitar 2.242 peserta dari 37 provinsi tersebut.
Penutupan MTQ Nasional XXXI digelar di kawasan Simpang Lima Semarang, Sabtu (19/9/2026). Acara dihadiri Menteri Agama RI Prof. Nazaruddin Umar, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Gubernur Kalimantan Timur, serta Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Dengan berakhirnya pelaksanaan di Jawa Tengah, estafet penyelenggaraan MTQ Nasional selanjutnya resmi beralih kepada Provinsi DKI Jakarta yang akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXII.
Ketua Panitia MTQ Nasional XXXI, Taj Yasin, dalam laporan penutupannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, kafilah, dewan hakim, panitia, pemerintah daerah, serta masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan MTQ.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama penyelenggaraan masih terdapat kekurangan, khususnya terkait lalu lintas dan parkir.
“Mohon maaf jika selama penyelenggaraan masih terdapat kekurangan, termasuk dalam lalu lintas dan parkir,” ujar Taj Yasin.
Menurut Taj Yasin, seluruh rangkaian MTQ Nasional XXXI secara umum berjalan lancar dan tertib. Jawa Tengah sebagai tuan rumah mengirimkan 67 kafilah hasil seleksi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. Dari jumlah tersebut, 30 peserta berhasil lolos ke babak final.
Ia mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang berhasil meraih prestasi, sekaligus mengapresiasi perjuangan para kafilah yang telah menjunjung tinggi sportivitas.
“Para juara kami ucapkan selamat atas prestasinya. Ini juga menjadi ruang bersama untuk semakin membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat,” katanya.
MTQ Nasional XXXI tidak hanya diisi dengan perlombaan. Sejumlah kegiatan pendukung turut digelar, antara lain seminar internasional, muzakarah ilmiah, pameran mushaf Al-Qur’an, serta ekspedisi tilawah dan kitabah yang melibatkan penyandang disabilitas.
Antusiasme masyarakat juga terlihat sejak rangkaian ta’aruf hingga pembukaan MTQ di kawasan Simpang Lima. Salah satu kegiatan yang mencatat capaian partisipasi besar adalah pembacaan Mars MTQ secara hybrid yang diikuti 288.262 peserta.
Taj Yasin menilai penyelenggaraan MTQ ke depan perlu terus memperkuat integritas dan marwah musabaqah. Sistem penjurian dan penilaian, menurutnya, harus dilakukan secara profesional, objektif, transparan, dan akuntabel.
“Setiap masukan dan evaluasi menjadi bahan penyempurnaan MTQ ke depan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembinaan peserta secara berkelanjutan. Pembinaan tidak hanya dilakukan menjelang pelaksanaan MTQ, tetapi mencakup kaderisasi peserta, peningkatan kompetensi pelatih dan dewan hakim, serta penguatan lembaga pendidikan Al-Qur’an.
Di Jawa Tengah, pemerintah provinsi juga memberikan perhatian terhadap para penghafal Al-Qur’an. Taj Yasin menyebut program bisyarah sebesar Rp1 juta bagi santri atau masyarakat yang menyelesaikan hafalan 30 juz.
Pada 2025, tercatat 1.041 penerima program tersebut. Sementara pada 2026, Pemprov Jawa Tengah menganggarkan Rp2 miliar untuk sekitar 2.000 penghafal Al-Qur’an.
“Kami juga memberikan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren serta memperkuat 5.347 pondok pesantren,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah.
Menurutnya, MTQ tidak hanya menjadi momentum memperkuat syiar Al-Qur’an, tetapi juga memberikan dampak terhadap perekonomian daerah.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam acara penutupan, perputaran ekonomi selama pelaksanaan MTQ Nasional XXXI disebut mencapai sekitar Rp1,3 triliun.
“Hal ini menandakan bahwa MTQ memberikan berkah lahir bagi Jawa Tengah,” kata Ahmad Luthfi.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri Agama RI atas kepercayaan yang diberikan kepada Jawa Tengah sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXI.
Penutupan MTQ Nasional XXXI sekaligus menjadi momentum penyerahan estafet penyelenggaraan kepada DKI Jakarta sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXII.
Para kafilah selanjutnya akan kembali ke daerah masing-masing dengan membawa pengalaman, prestasi, serta semangat untuk terus mengembangkan pembinaan Al-Qur’an di daerah.
Ahmad Luthfi menegaskan, MTQ harus terus menempatkan Al-Qur’an sebagai standar utama. Menurutnya, MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kecintaan dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, keberhasilan Kalimantan Timur menjadi juara umum menjadi salah satu catatan utama dalam penutupan MTQ Nasional XXXI. Prestasi tersebut menempatkan Kaltim sebagai provinsi dengan capaian terbaik dalam kompetisi tingkat nasional yang berlangsung di Jawa Tengah.
Setelah Semarang, perhatian penyelenggaraan MTQ Nasional kini beralih ke DKI Jakarta yang akan mempersiapkan pelaksanaan MTQ Nasional XXXII.

Komentar