BERITASEMARANG.ID – Babak baru industri kendaraan energi baru (NEV) di Indonesia resmi dimulai. BYD meresmikan fasilitas manufaktur pertamanya di Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Subang Smartpolitan, Jawa Barat, pada 3 September 2026.
Peresmian fasilitas tersebut dibuka oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, didampingi Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Kehadiran pabrik ini menjadi tonggak penting bagi BYD setelah sebelumnya membangun pasar kendaraan energi baru di Indonesia sejak masuk pada Januari 2024. Kini, BYD tidak hanya berstatus sebagai pemain di pasar kendaraan listrik nasional, tetapi mulai memperkuat posisinya sebagai bagian dari rantai industri dan manufaktur dalam negeri.
Fasilitas manufaktur BYD di Subang berdiri di atas lahan sekitar 126 hektare dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit kendaraan per tahun. Pembangunannya diselesaikan dalam waktu sekitar 20 bulan.
Momentum peresmian ditandai dengan penandatanganan plakat oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan roll-off BYD M6 DM, yang menjadi unit ke-100.000 kendaraan BYD yang diproduksi secara lokal di Indonesia.
Agus mengatakan, kehadiran pabrik BYD bukan sekadar pembukaan fasilitas produksi baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem industri kendaraan listrik di Indonesia.
“Peresmian fasilitas produksi BYD Motor Indonesia hari ini bukan hanya pembukaan pabrik baru, melainkan simbol lahirnya harapan dan peluang bagi kemajuan industrialisasi nasional melalui penciptaan ekosistem industri,” ujar Agus.
Menurutnya, pemerintah ingin pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas industri nasional, termasuk melalui peningkatan penggunaan komponen dalam negeri.
Investasi BYD di Subang juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok lokal. Saat ini BYD menyebut telah terhubung dengan lebih dari 200 mitra rantai pasok dan menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja lokal.
Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 20.000 lapangan kerja ketika pabrik mencapai kapasitas produksi penuh. BYD juga mempersiapkan pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 60 persen pada Januari 2027.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menilai investasi BYD dapat menjadi pemicu lahirnya industri-industri baru di sekitar sektor kendaraan energi baru.
“Kita melihat pembangunan pabrik BYD ini bukan hanya sebagai investasi di sektor otomotif, tetapi sebagai bagian dari pembangunan ekosistem industri baru di Indonesia,” kata Luhut.
Ia berharap keberadaan pabrik tersebut tidak hanya menghasilkan kendaraan untuk pasar domestik, tetapi juga membuka peluang bagi produk buatan Indonesia untuk menembus pasar global.
Pembangunan pabrik Subang tidak terlepas dari pertumbuhan pasar BYD di Indonesia. Sejak masuk ke Indonesia pada Januari 2024, BYD terus memperluas jaringan penjualan dan layanan di berbagai daerah. Pada Januari hingga Juli 2026, BYD Indonesia mencatat penjualan sekitar 32.800 unit, dengan pangsa pasar sekitar 35 persen.
Secara kumulatif, lebih dari 100.000 kendaraan energi baru BYD telah dikirimkan kepada konsumen Indonesia. Jaringan penjualan dan layanan BYD kini telah berkembang hingga lebih dari 100 lokasi di berbagai wilayah Indonesia.
Selain kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV, BYD juga memperluas pilihan teknologi elektrifikasi melalui teknologi Dual Mode (DM) yang diperkenalkan pada Mei 2026. Strategi tersebut menjadi bagian dari pendekatan EV + DM, dengan menawarkan pilihan kendaraan elektrifikasi yang lebih beragam bagi konsumen Indonesia.
Fasilitas manufaktur BYD di Subang dirancang dengan tingkat otomatisasi tinggi dan sistem produksi cerdas yang terintegrasi. Dalam factory tour yang digelar bersamaan dengan peresmian, para tamu dan media dapat melihat langsung tiga tahapan utama produksi kendaraan, yakni Welding, Painting, dan Final Assembly.
Pada tahap Welding, struktur dasar kendaraan dibentuk menjadi kerangka bodi dengan dukungan teknologi robotik dan sistem produksi fleksibel multi-model. Sistem tersebut memungkinkan sejumlah model kendaraan diproduksi dalam satu lini produksi.
Tahap berikutnya adalah Painting, yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap bodi kendaraan sekaligus memastikan kualitas permukaan dan tampilan eksterior. Proses ini didukung sistem quality control yang terintegrasi.
Sementara Final Assembly menjadi tahap penyatuan berbagai komponen kendaraan hingga menjadi unit yang siap digunakan konsumen. Setiap kendaraan menjalani pemeriksaan, penyetelan, dan quality control sebelum dikirim.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao mengatakan, fasilitas Subang memiliki makna lebih luas daripada sekadar tempat produksi kendaraan.
“Kehadiran fasilitas manufaktur BYD di Subang memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar memproduksi kendaraan di Indonesia. Ini merupakan langkah untuk membangun kapabilitas bersama, membuka peluang bagi tenaga kerja lokal, mengembangkan talenta dan keterampilan, serta memperkuat keterlibatan industri Indonesia dalam ekosistem kendaraan energi baru,” ujar Eagle.
Ia menegaskan BYD ingin menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dari jaringan manufaktur global perusahaan. “BYD Made in Indonesia and for Indonesia,” tegasnya.
Secara global, fasilitas manufaktur di Indonesia menjadi fasilitas produksi BYD yang ke-13. Kehadiran pabrik Subang sekaligus memperkuat strategi lokalisasi BYD di berbagai pasar dunia.
BYD menyebut telah membukukan penjualan global sebesar 2,6 juta unit sepanjang Januari-Agustus 2026, dengan total penjualan kendaraan energi baru secara kumulatif mencapai 17,8 juta unit.
Dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun, target peningkatan TKDN, serta rencana pengembangan ekosistem baterai dan berbagai fasilitas pendukung, pabrik Subang diproyeksikan menjadi salah satu fondasi penting bagi ekspansi BYD di Indonesia.
Bagi pemerintah, investasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada produksi kendaraan, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri yang melibatkan pemasok lokal, tenaga kerja, pengembangan teknologi, logistik, hingga berbagai sektor pendukung lainnya.
Sementara bagi BYD, Subang menjadi titik penting untuk menghubungkan pengalaman manufaktur global dengan kemampuan industri Indonesia. Dengan demikian, peresmian pabrik ini bukan sekadar menandai dimulainya produksi kendaraan BYD di dalam negeri, tetapi juga menjadi langkah menuju babak baru “Made in Indonesia” yang diharapkan mampu menjangkau pasar dunia.

Komentar