BERITASEMARANG.ID – Kota Semarang baru saja mengukir sejarah baru dalam pembangunan manusia. Berdasarkan data terbaru tahun 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Atlas ini melesat ke angka 85,80. Angka ini tidak hanya masuk dalam kategori “Sangat Tinggi”, tetapi juga meninggalkan jauh rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang berada di angka 74,77.
Capaian ini menjadi bukti sahih bahwa transformasi Semarang sebagai kota metropolitan yang inklusif dan manusiawi bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang dirasakan warganya.
Rahasia di Balik Angka: Warga Panjang Umur dan Sejahtera
Keberhasilan ini ditopang oleh empat pilar utama yang menunjukkan kualitas hidup masyarakat Semarang yang semakin prima:
-
- Harapan Hidup Tinggi: Warga Semarang kini memiliki Angka Harapan Hidup (UHH) rata-rata hingga 78,72 tahun. Ini mencerminkan lingkungan yang sehat dan sistem medis yang mumpuni.
- Pendidikan yang Merata: Harapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 15,58 tahun, sementara Rata-rata Lama Sekolah (RLS) berada di angka 11,11 tahun.
- Daya Beli Kuat: Pengeluaran Per Kapita (PPP) warga Semarang menyentuh angka Rp17,40 juta/tahun, menunjukkan stabilitas ekonomi yang terjaga.
”Capaian ini membuktikan efektivitas program kesejahteraan kita. Angka harapan hidup 78 tahun adalah cermin bahwa Semarang semakin sehat dan layak huni bagi semua generasi,” ujar Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, Rabu (14/1).
Strategi “Jemput Bola” dan Kota Ramah Lansia
Salah satu kunci sukses Pemkot Semarang adalah keberanian melakukan terobosan di sektor kesehatan. Melalui penguatan Universal Health Coverage (UHC) dan optimalisasi Posyandu Lansia, layanan kesehatan kini tidak lagi bersifat pasif.
Pemerintah secara aktif melakukan aksi “jemput bola” dengan mendatangi rumah-rumah lansia untuk memastikan mereka mendapatkan akses medis tanpa hambatan. Selain itu, pembangunan infrastruktur fisik seperti taman ramah lansia menjadi fokus untuk menjaga kesehatan mental dan sosial warga senior.
Menuju Standar Baru Kota Inklusif
Sinergi antara pertumbuhan ekonomi yang stabil dengan pembangunan infrastruktur inklusif menjadikan Semarang sebagai role model kota ramah lansia di Indonesia. Wali Kota menekankan bahwa prestasi di tahun 2025 ini merupakan hasil kerja kolektif masyarakat.
”Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan standar pelayanan agar kesejahteraan ini dirasakan merata oleh seluruh warga hingga usia senja,” pungkas Agustina.

Komentar