Jateng

​Atasi Krisis Sampah, Tim Mahasiswa Lintas Ilmu Gagas RECULA: Sistem TPA Mandiri Energi Berbasis Ekonomi Sirkular  

BBERITASEMARANG.ID  – Krisis pengelolaan sampah di Indonesia kian memasuki fase mengkhawatirkan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah nasional telah menyentuh angka 33,79 juta ton, didominasi oleh sisa makanan (39,36%) dan plastik (19,64%). Berangkat dari keprihatinan tersebut, sekelompok mahasiswa kreatif menggagas sebuah inovasi sistem kawasan terpadu bernama RECULA untuk mentransformasi tata kelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Indonesia.

​Gagasan mutakhir ini berhasil melenggang dalam ajang bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PKM) 2026 untuk bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK), di bawah Tema 8: Pelestarian Lingkungan dan Mitigasi Bencana.

​Tim kolaboratif lintas disiplin ilmu ini dipimpin oleh Naurah Safa Labibah (Ilmu Komunikasi, FISIP) sebagai Ketua Tim. Ia diperkuat oleh empat anggota lainnya, yaitu Muhammad Rafly Andika Putra (Ilmu Komunikasi, FISIP), Aulia Keyla Chairunissa (Ilmu Komunikasi, FISIP), Faishal Rahman Irawan (Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik), dan Loisa Margaret Ambarita (Kimia, FSM). Gagasan besar ini digodok di bawah bimbingan dosen pendamping, Yohanes Thianika Budiarsa, S.I.Kom., MGMC.

​Ketua Tim PKM-VGK RECULA, Naurah Safa Labibah, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir karena melihat pendekatan pengelolaan sampah di Indonesia yang masih bersifat parsial atau sekadar kumpul-angkut-buang. Pendekatan konvensional terbukti gagal mengatasi limbah turunan berbahaya, seperti air lindi dan mikroplastik yang merusak ekosistem dan kesehatan warga sekitar TPA.

​”RECULA didesain sebagai sistem kawasan terpadu yang mengintegrasikan teknologi tepat guna berbasis tenaga lokal. Kami menggabungkan aspek teknis lingkungan, proses kimiawi, hingga strategi komunikasi dan pemberdayaan masyarakat agar sistem ini tidak hanya canggih di atas kertas, tetapi juga adaptif dan bisa diterapkan secara nyata oleh warga setempat,” ujar Naurah Safa Labibah.

Wajah Baru Stasiun Tawang: Menjaga Sejarah, Memacu Ekonomi Semarang

​Secara teknis, kawasan terpadu RECULA ditopang oleh empat modul utama yang saling terhubung tanpa jeda:

​1. Modul Konversi Lindi (Anaerobic Digestion): Mengolah air lindi TPA secara biologis menjadi biogas sebagai sumber energi termal dan digestate (residu organik).

​2. Modul Remediasi Sungai (Multi-Stage Filtration): -.Menggunakan sistem penyaringan bertingkat untuk menyaring sampah makro hingga mikroplastik berukuran kurang dari 5 mm dari badan air.

3. Modul Direct Thermal Coupling: Memanfaatkan panas dari pembakaran biogas secara langsung untuk melelehkan limbah plastik, yang kemudian dicetak menjadi eco-paving block bernilai ekonomi tinggi.

4. Modul Fitoremediasi Residu: Memanfaatkan tanaman hiperakumulator untuk menyerap logam berat pada residu digestate, sehingga aman digunakan kembali sebagai pupuk.

Wuling Resmi Meluncurkan Aira ev di GIIAS 2026: Mobil Listrik Ringkas nan Bergaya Neo Classic, Harga Mulai Rp155 Juta

​Sistem RECULA dirancang modular dan dilengkapi Standar Prosedur Operasional (SPO) yang sederhana agar dapat dioperasikan penuh oleh sumber daya manusia (SDM) lokal. Melalui skema pendapatan mandiri dari penjualan eco-paving block, pupuk organik, serta distribusi sebagian biogas ke rumah tangga sekitar TPA, sistem ini diproyeksikan mampu beroperasi secara mandiri tanpa bergantung penuh pada subsidi.

​Dosen Pendamping Tim, Yohanes Thianika Budiarsa, S.I.Kom., MGMC., menyatakan apresiasi dan optimismenya terhadap dampak jangka panjang yang ditawarkan oleh gagasan bimbingannya ini.

​”Inovasi RECULA ini memiliki kekuatan besar pada integrasi konsep ekonomi sirkular yang transformatif. Mahasiswa tidak hanya menawarkan solusi untuk memitigasi bencana lingkungan, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Ini adalah langkah konkret dari generasi muda dalam mengawal revitalisasi TPA yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045,” tegas Yohanes Thianika Budiarsa.

​Implementasi RECULA sendiri telah dirancang matang melalui roadmap strategis berdurasi 5 tahun. Fase pertama akan berfokus pada pematangan prototipe, disusul dengan integrasi sistem dan penyusunan regulasi operasional pada fase kedua, hingga akhirnya bermuara pada standardisasi desain untuk replikasi massal di TPA-TPA skala prioritas secara nasional.

​UIN Walisongo & BNPT Racik “Tutur Harmoni” Tangkal Intoleransi Sejak Dini  

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement