BERITASEMARANG.ID — Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya mengejar predikat unggul atau status akreditasi semata. Di tengah berbagai persoalan bangsa, kampus dituntut hadir sebagai pusat solusi (problem solver) yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, riset, dan pengabdian.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Upacara Dies Natalis ke-45 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di Balairung UPGRIS, Semarang, Kamis (23/7).
Menurut Fauzan, transformasi paradigma dari “menara gading” menjadi kampus yang inklusif merupakan kebutuhan mendesak. Keunggulan institusi kini diukur dari sejauh mana kampus mampu menjawab tantangan riil di masyarakat, seperti pengangguran, kesehatan, energi, hingga ketahanan pangan. Hasil riset pun tidak boleh berhenti sebatas laporan ilmiah, melainkan harus diimplementasikan secara konkret melalui kolaborasi pentahelix.
Sementara itu, Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., menyatakan bahwa tema Dies Natalis ke-45, ‘UPGRIS Memberi Makna’, mencerminkan komitmen kampus untuk menghadirkan dampak nyata.
Hal ini disambut baik oleh publik, terbukti dari melonjaknya jumlah mahasiswa baru UPGRIS tahun akademik 2025/2026 dari 3.667 menjadi 4.335 orang. Momentum ini juga ditandai dengan pencapaian strategis UPGRIS yang resmi mengantongi izin operasional Program Doktor (S3) Pendidikan.

Komentar