BERITASEMARANG.ID – Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan, Mranggen, Demak, saat menerima kunjungan resmi Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahim biasa, melainkan sebuah dialog mendalam mengenai revitalisasi kejayaan intelektual Islam yang berakar dari tradisi pesantren.
Jejak Sejarah: Dari 1901 Hingga Persahabatan Tokoh Bangsa
Pengasuh PP Futuhiyyah, KH. Ahmad Faizurrahman Hanif, dalam sambutannya memaparkan sejarah panjang pesantren yang berdiri sejak tahun 1901 tersebut. Didirikan oleh KH. Abdurrahman bin Qashidul Haq dan diteruskan oleh putranya, KH. Muslih bin Abdurrahman, Futuhiyyah tercatat sebagai garda terdepan pendidikan Islam di Jawa Tengah.
”Pesantren harus berada di tengah umat tanpa sekat. Sejarah mencatat, KH. Muslih adalah sosok reformis yang berani mendirikan lembaga pendidikan formal sejak 1963 untuk membentengi aqidah masyarakat agar tidak perlu jauh-jauh sekolah ke kota lain,” ujar KH. Faizurrahman.
Menariknya, ia juga mengungkap fakta sejarah tentang kedekatan KH. Muslih dengan tokoh nasional Prof. Dr. KH. Mukti Ali (Menteri Agama era Orde Baru) saat keduanya sama-sama nyantri di Tremas, Pacitan. Semangat pembaruan inilah yang kini diteruskan melalui jenjang pendidikan lengkap dari PAUD hingga Ma’had Aly.
Pesan Menag: Belajar dari Keruntuhan Baghdad
Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar memberikan apresiasi tinggi terhadap struktur kemandirian yang dimiliki Futuhiyyah. Dalam orasi ilmiahnya, Menag mengajak para santri dan kyai untuk merefleksikan kejayaan Islam pada masa Baitul Hikmah (700-1200 M) sebelum dihancurkan oleh serbuan Hulagu Khan di Baghdad tahun 1258.
”Dulu, integrasi ilmu sangat luar biasa. Ada tokoh yang pagi hari menjadi dokter bedah, namun malam harinya menulis ensiklopedia Islam. Itulah yang harus kita kembalikan,” tegas Menag.
Ia menekankan bahwa pesantren tidak boleh takut untuk berpikir inovatif. Menag mengibaratkan pentingnya transformasi ideologi seperti gerakan pembaruan di Eropa yang mengubah masyarakat dari konsumtif menjadi produktif.

”Agama adalah faktor dominan dalam masyarakat. Kita perlu menciptakan metode kajian yang mendalam agar pesantren kembali melahirkan pemikir dunia yang mampu menjawab tantangan zaman,” tambah Prof. Nasaruddin.
Cinderamata Literasi
Sebagai simbol estafet keilmuan, pihak pesantren menyerahkan cinderamata berupa buku peninggalan serta biografi KH. Muslih bin Abdurrahman kepada Menteri Agama. Menag pun menyatakan ketertarikannya untuk mendiskusikan lebih lanjut mengenai metode pendidikan masa depan bersama para ulama di Futuhiyyah.
Santri diharapkan terus belajar beradaptasi dan berinovasi sesuai kemajuan teknologi, agar islam terus berkembang sesuai kebutuhan umat.
“Alumni pondok pesantren adalah harapan bangsa, para santri harus terus belajar dan selalu menghormati para Kyai dan guru – gurunya. Agar mendapatkan keberkahan ilmu yang dipelajari selama di pondok pesantren, ” jelasnya.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, menandai harapan baru bagi dunia pesantren untuk tetap menjadi pilar peradaban di tengah arus modernisasi.

Komentar