Ekonomi Nasional

Pasar Modal Indonesia Siap Luncurkan ETF Emas Fisik, Solusi Investasi Baru Ritel dan Institusi

BERITASEMARANG.ID – Pasar modal Indonesia tengah bersiap memperluas portofolio instrumen investasinya dengan menghadirkan Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas fisik. Langkah strategis ini diambil untuk menangkap momentum kilau emas di pasar global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem bullion dunia.

​Berdasarkan data State Street ETFs Chart Pack, emas mencatatkan pertumbuhan paling pesat sepanjang tahun 2025 mengungguli saham global dan obligasi. Lonjakan ini dipicu oleh pelemahan indeks Dolar AS ke level terendah sejak 2017 serta fungsi emas sebagai aset lindung nilai (hedging) terbaik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

​”Melalui inovasi ETF Emas ini, pasar modal Indonesia tidak hanya melengkapi variasi produk investasinya untuk meningkatkan daya saing regional, tetapi juga membantu menyerap kelebihan produksi emas domestik demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Ignatius Denny Wicaksono, CFA, Head of Division Business Development 2, dalam pemaparannya via Zoom, Rabu (20/5/2026).

​Kehadiran ETF Emas berbasis Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini diproyeksikan menjadi solusi bagi investor institusi. Selama ini, banyak lembaga pengelola dana besar terbentur regulasi untuk membeli emas fisik secara langsung, namun memiliki kelonggaran berinvestasi pada produk reksa dana atau ETF.

​Potensi likuiditas dari sektor institusi di Indonesia yang siap menyerap produk ini sangat masif, di antaranya:

JNE Gelar Promo JTR Kirim Barang Mumpuni Mulai Rp2.000/Kg

-. ​Dana Pensiun: Mengelola total portofolio investasi sebesar Rp1.021,82 triliun (sesuai POJK 29/POJK.05/2018).

-. ​Asuransi: Mengelola aset sebesar Rp1.529 triliun dengan relaksasi investasi pada reksa dana dan emas murni maksimal 10% (POJK No. 5 Tahun 2023).

-. ​BPJS Kesehatan & Ketenagakerjaan: Memiliki dana kelolaan masing-masing Rp95,14 triliun dan Rp776,80 triliun, dengan batas investasi reksa dana hingga 50%.

-. ​Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH): Mengelola dana Rp177 triliun, dengan regulasi membolehkan investasi pada reksa dana syariah serta rekening emas maksimal 5%.

​Selain institusi, kekuatan investor ritel domestik juga sangat besar. Saat ini, kontribusi transaksi harian dari investor ritel mendominasi hingga 54% atau setara dengan Rp14 triliun per hari dari total nilai transaksi harian bursa yang mencapai Rp18 triliun.

​Daya Jelajah 600 KM, LEPAS E4 EV Gebrak GIIAS 2026  

​Data historis jangka panjang menunjukkan kinerja emas dalam mata uang Rupiah (Gold IDR) sangat kokoh. Sepanjang tahun 2025, emas mencatatkan imbal hasil (return) fantastis sebesar 56,7%. Sementara untuk rata-rata tahunan jangka 3 tahun, 5 tahun, hingga 10 tahun, performanya masing-masing mencapai 33,57%, 21,8%, dan 17,6%.

​Selain keuntungan yang tinggi, ETF Emas menawarkan empat keunggulan utama bagi pemodal:

​1. Diversifikasi Efektif

​Emas memiliki korelasi yang sangat rendah dengan kelas aset lain, seperti saham (IHSG sebesar 0,02) dan reksa dana pasar uang (-0,03). Hal ini menjadikannya alat peredam risiko yang ideal saat pasar saham sedang bergejolak.

​2. Likuiditas Terjamin

Telkom Cetak Laba Normalisasi Rp11,3 Triliun di Semester I 2026

​Proses perdagangan di pasar sekunder didukung oleh Authorized Participants (AP) yang memberikan kuotasi harga secara kontinu, sehingga investor dapat dengan mudah melakukan jual-beli.

​3. Efisiensi Biaya dan Pajak

​Mekanisme pembuatan dan pencairan unit (in-kind creation/redemption) dapat menekan biaya transaksi portofolio. Selain itu, aspek pajak keuntungan modal (capital gains tax) sudah melekat di dalam struktur ETF, sehingga investor tidak perlu menghitung pajak transaksi secara terpisah.

​4. Tersedia Prinsip Syariah

​ETF Emas juga akan dikembangkan dalam varian berbasis syariah, menyediakan alternatif baru bagi investor yang mengedepankan prinsip keagamaan.

​Dengan basis lebih dari 26 juta investor pasar modal dan kapitalisasi pasar mencapai Rp15.000 triliun, kehadiran ETF Emas ini diyakini akan mendapat sambutan positif dan menjadi instrumen diversifikasi yang populer di Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement