BERITASEMARANG.ID – Menjelang peringatan Hari Kartini ke-147 yang jatuh pada 21 April, Ketua Pengurus Yayasan Alumni Undip, Prof. Dr. Ir. Kesi Widjajanti, SE, MM, memberikan refleksi mendalam mengenai esensi perjuangan perempuan di era modern.
“Budaya kita bukan sekadar kain yang kita pakai atau tari yang kita tarikan. Budaya kita adalah tepo sliro—sebuah kesadaran mendalam bahwa ada perasaan orang lain yang harus kita jaga,” ujar Prof. Kesi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/4).
Prof. Kesi menekankan pentingnya “internalisasi” budaya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti bahwa di tengah gempuran teknologi, nilai-nilai kemanusiaan dan empati tidak boleh tergerus oleh algoritma.
“Jangan biarkan layar gadget memutus jalinan silaturahmi. Majulah bersama kemajuan zaman, namun jangan pernah melepaskan akar yang menguatkan perempuan,” tegasnya.
Sebagai bagian dari civitas akademika Universitas Semarang (USM), Prof. Kesi mengajak para mahasiswa untuk menerapkan visi USM: menjadi insan yang profesional, beradab, dan berke-Indonesiaan.
“Kartini adalah teladan bahwa kecerdasan harus bersanding dengan kelembutan hati. Bagi mahasiswa USM, tunjukkan bahwa kalian bukan hanya cakap secara teknis, tapi juga unggul dalam attitude,” tambahnya.
Di akhir refleksinya, Prof. Kesi menggarisbawahi peran krusial perempuan sebagai penjaga budaya leluhur. Di tangan perempuanlah, etika dan adat istiadat diharapkan tetap tegak berdiri di tengah arus modernisasi yang kian kencang.
“Kecerdasan tanpa etika adalah kehilangan arah, namun kecerdasan dengan budi pekerti adalah kekuatan yang menginspirasi. Mari teruskan perjuangan Kartini dengan cara nyata: berprestasi tanpa melupakan jati diri, maju bersama teknologi tanpa meninggalkan tradisi,” pungkasnya.

Komentar