BERITASEMARANG.ID – Tekad kuat untuk memenuhi panggilan Ilahi kembali dibuktikan oleh seorang pejuang ekonomi mikro. Muqorobin Ngadiman, seorang penjual pentol yang sehari-harinya bergelut dengan asap dandang dan rute jalanan, tahun ini resmi berangkat ke Tanah Suci.
Perjalanan ini bukanlah hasil keberuntungan instan, melainkan buah dari kesabaran luar biasa selama belasan tahun menyisihkan rupiah demi rupiah dari keuntungan berjualan pentol.
Merawat Mimpi Sejak Belia
Bagi Muqorobin, keinginan untuk menginjakkan kaki di Mekah sudah tertanam sejak ia masih muda. Meski menyadari pekerjaannya hanya sebagai pedagang kecil dengan penghasilan yang tidak menentu, ia tidak pernah membiarkan mimpinya padam.
Ia memilih untuk tidak banyak sesumbar. Di balik kesibukannya melayani pembeli, ia secara konsisten “merawat” mimpinya dalam diam. Setiap kali ada sisa keuntungan, sekecil apa pun nominalnya, selalu ia prioritaskan untuk tabungan haji.
Konsistensi di Tengah Keterbatasan
Menabung dalam jangka waktu belasan tahun tentu bukan perkara mudah. Muqorobin mengaku kerap dihadapkan pada berbagai godaan dan kebutuhan hidup yang mendesak. Namun, keyakinannya pada konsep “ikhtiar” membuatnya tetap disiplin.
”Langkah kecil yang konsisten akan membawa kita pada tujuan besar,” menjadi prinsip yang ia pegang teguh hingga akhirnya tabungan tersebut mencukupi untuk biaya pelunasan haji.
Berangkat Melalui Kloter 21
Tahun 2026 ini menjadi tahun kemenangan bagi Muqorobin. Ia terdaftar sebagai jemaah calon haji yang akan berangkat melalui Embarkasi Solo (SOC) dalam kelompok terbang (kloter) 21, dijadwalkan terbang ke Tanah Suci, selasa (28/4).
Kisah Muqorobin Ngadiman menjadi viral dan menjadi inspirasi bagi warga di Kabupaten Semarang. Ia membuktikan bahwa profesi sederhana bukanlah penghalang untuk menunaikan rukun Islam kelima, asalkan disertai dengan niat yang tulus dan kerja keras yang berkelanjutan.
Kini, sang penjual pentol itu siap menukar celemek dagangnya dengan kain ihram, menjemput impian yang telah ia titipkan dalam tabungan selama belasan tahun lamanya.

Komentar