BERITASEMARANG.ID – Melimpahnya hasil komoditas hortikultura di Dusun Kaliduren, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, menyimpan tantangan tersendiri terkait pengelolaan sampah organik. Melihat potensi tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 112 Universitas Diponegoro (Undip) menggelar sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan limbah sayur serta sisa buah menjadi eco enzyme di rumah warga setempat, Saerotun, baru-baru ini.
Kegiatan yang ditujukan bagi kelompok ibu-ibu Dusun Kaliduren ini dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Zaenul Muhlisin, Evi Setiawati, dan Oki Ade Putra, serta dijalankan oleh mahasiswa KKN-T yang terdiri atas Selin, Udin, Ifa, Bila, Fia, Budhi, Olin, Jeriko, Novri, dan Arika.
Perwakilan mahasiswa KKN-T, Udin, menjelaskan bahwa hamparan tanaman pakcoi, selada, brokoli, hingga buah-buahan di kawasan perbukitan Getasan tak jarang menyisakan limbah organik, baik dari hasil sortasi panen maupun sampah dapur.
”Selama ini kita sering berpikir bahwa limbah selesai ketika dibuang. Padahal, melalui proses fermentasi yang sederhana, sisa sayur dan buah bisa diubah menjadi eco enzyme yang bernilai guna,” ujar Udin.
Cairan hasil fermentasi alami ini memiliki beragam manfaat rumah tangga, mulai dari pupuk organik cair, pembersih lantai, sabun cuci piring, hingga deterjen cair yang ramah lingkungan.
Tidak sekadar menyampaikan materi, para mahasiswa mengajak warga terlibat langsung dalam praktik pembuatan eco enzyme—mulai dari pemilihan bahan, penentuan rasio komposisi, hingga teknik penyimpanan wadah fermentasi.
Antusiasme ibu-ibu terlihat tinggi sepanjang sesi demonstrasi. Salah satu warga, Siti, aktif bertanya mengenai teknis penanganan gas yang dihasilkan selama proses penyimpanan.
Selin, anggota tim KKN-T lainnya, menerangkan bahwa proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga siap dipakai.
”Selama masa fermentasi, mikroorganisme menguraikan bahan organik dan menghasilkan gas. Wadah memerlukan ruang pelepasan tekanan, bisa menggunakan botol pelepas gas khusus atau dengan membuka tutup wadah biasa secara berkala,” terang Selin.
Tuan rumah kegiatan, Saerotun, mengapresiasi ragam manfaat yang diajarkan oleh mahasiswa Undip. Ia mengaku baru mengetahui bahwa sisa sayur dan buah bisa diolah menjadi produk pembersih selain pupuk tanaman.
Inisiatif ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- SDG 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
- SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
Melalui pelatihan berbasis ekonomi sirkular ini, Tim KKN-T Undip berharap masyarakat Dusun Kaliduren dapat mengelola limbah organik secara mandiri, murah, dan berkelanjutan dari lingkungan terdekat mereka.

Komentar