BERITASEMARANG.ID – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong Indonesia untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu mulai memahami bagaimana AI dikembangkan agar mampu menciptakan inovasi dari dalam negeri.
Pesan tersebut disampaikan Dekan School of Computer Science BINUS University sekaligus Professor in Artificial Intelligence, Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI, dalam talkshow “Generale: Navigating The Next Tech Wave, Securing High Demand Careers in the Era of AI” di BINUS University Semarang, Rabu (16/9).
Menurut Derwin, perkembangan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat, terutama setelah munculnya teknologi generatif AI. Kondisi tersebut membuat generasi muda tidak cukup hanya menguasai cara menggunakan berbagai aplikasi AI.
“Buat saya, opsinya adalah belajar AI-nya. Bukan hanya belajar menggunakan tools-nya, tetapi belajar AI-nya,” ujarnya.
Derwin menekankan, pemahaman terhadap konsep, data, algoritma, hingga cara kerja AI menjadi modal penting agar generasi muda tidak berhenti sebagai konsumen teknologi.
“Jangan menjadikan Indonesia terus-menerus sebagai pengguna AI. Saya mendorong orang-orang di Indonesia mulai melihat bagaimana AI itu dibuat, bukan hanya bagaimana AI itu dipakai,” tegasnya.
Ia melihat perkembangan AI juga membuka peluang ekonomi yang besar. Saat ini, masyarakat Indonesia banyak menggunakan dan membayar layanan AI yang dikembangkan perusahaan teknologi global.
Karena itu, menurut Derwin, Indonesia perlu mulai membangun kapasitas untuk menghasilkan teknologi AI sendiri. Upaya tersebut salah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan yang membekali mahasiswa dengan kemampuan memahami sekaligus mengembangkan AI.
BINUS University Semarang sendiri mulai membuka program studi yang berfokus pada Artificial Intelligence bagi mahasiswa tahun akademik 2026. Program tersebut ditujukan untuk menyiapkan talenta yang mampu menghadapi kebutuhan industri sekaligus berkontribusi dalam pengembangan teknologi AI di Indonesia.
Derwin menegaskan, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana manusia menggunakan AI, tetapi bagaimana manusia dapat memahami dan mengendalikan teknologi tersebut untuk menghasilkan karya dan solusi baru.

Komentar