Pendidikan Semarang

Doktor Baru UIN Walisongo Ungkap Relasi Keyakinan Imam Mahdi dengan Moderasi Beragama

BERITASEMARANG.ID  — Pandangan umum sering kali mengaitkan doktrin eskatologi seperti kedatangan Imam Mahdi dengan gerakan radikal atau upaya restorasi khilafah. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang justru mematahkan stigma tersebut.

​Pada Selasa (5/5/2026), Ahmad Muthohar resmi menyandang gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya yang bertajuk “Relasi Paradoksal antara Mahdiisme dan Gerakan Anti Khilafah: Studi atas Perilaku Politik Santri” dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor di Pascasarjana UIN Walisongo.

​Paradoks Produktif: Keyakinan Akhir Zaman untuk Komitmen Kebangsaan

​Dalam paparannya di hadapan dewan penguji, Ahmad Muthohar mengungkapkan fenomena unik yang ia sebut sebagai “Paradoks Produktif Mahdiisme”. Jika gerakan Islam transnasional kerap mengeksploitasi isu Imam Mahdi untuk memobilisasi massa menuju sistem khilafah, di kalangan santri Indonesia terjadi hal sebaliknya.

​”Santri tetap meyakini eskatologi Imam Mahdi sebagai kerangka etis, namun di saat yang sama mereka menjadi garda terdepan dalam menolak gerakan khilafah kontemporer,” jelas Muthohar.

Hadiri Silatnas Annitho Aswaja, Taj Yasin Kumpul Bareng Ribuan Anggota Thariqah di Semarang

​Penelitian ini menemukan bahwa di lingkungan pesantren, keyakinan terhadap masa depan (akhir zaman) dikelola menjadi:

-. ​Energi Kesalehan: Dialihkan menjadi perbaikan etika sosial dan kesalehan personal.

-. ​Perilaku Politik Moderat: Menghargai ruang publik dan menghormati konsensus nasional.

-. ​Filter Ideologi: Menolak khilafah karena dianggap sebagai produk sejarah, bukan keharusan teologis yang wajib direplikasi di era negara bangsa modern.

​Memperkuat NKRI dan Pancasila

Jelang Muktamar VIII IPHI, Prof Imam Taufiq Dorong Penguatan Peran Organisasi dalam Pembinaan Haji

​Temuan ini sangat krusial bagi peta moderasi beragama di Indonesia. Muthohar membuktikan bahwa semakin kritis pemahaman santri terhadap teks keagamaan, semakin kuat pula komitmen mereka terhadap kebhinekaan.

​Mahdiisme di kalangan santri bukanlah motor radikalisasi.

Sebaliknya, doktrin tersebut berfungsi sebagai pengukuh legitimasi terhadap Pancasila dan NKRI. Hal ini memberikan perspektif baru bahwa teologi tidak selamanya berujung pada tuntutan politik institusional yang kaku.

​Lulus Sebagai Doktor ke-407

​Ketua Sidang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., secara resmi mengumumkan kelulusan Ahmad Muthohar sebagai Doktor ke-407 yang dilahirkan oleh UIN Walisongo Semarang. Sidang ini turut dihadiri oleh jajaran akademisi, tokoh agama, dan pihak keluarga.

Wali kota Agustina Apresiasi Karang Taruna Lestarikan Tradisi Budaya Jaranan

​Ahmad Muthohar berharap hasil kajiannya ini dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan. “Penting bagi kita untuk melihat relasi antara teologi dan politik secara lebih kontekstual dan non-reduksionistik, sehingga kita tidak salah dalam memetakan potensi radikalisme di masyarakat,” pungkasnya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement