BERITASEMARANG.ID — Kinerja perekonomian dan pengelolaan keuangan publik di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menunjukkan ketahanan (resiliensi) yang solid memasuki bulan April 2026. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global dan eskalasi krisis di Timur Tengah, sinergi APBN dan APBD di Jateng terbukti efektif menjaga stabilitas daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya mengungkapkan, bahwa kolaborasi fiskal yang kuat menjadi kunci utama Jateng dalam mengoptimalkan peran kawasan ekonomi khusus strategis dan menjaga mesin pertumbuhan tetap berputar.
Ekonomi Makro Jateng: Tumbuh Tertinggi di Pulau Jawa
Pada Triwulan I-2026, ekonomi Jawa Tengah mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 5,89% (yoy) atau 1,85% (qtq). Capaian ini menobatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi triwulanan (qtq) tertinggi di Pulau Jawa, dengan kontribusi ekonomi mencapai 14,50% terhadap total PDRB Pulau Jawa.
Beberapa indikator makro dan kesejahteraan utama Jateng per April 2026 meliputi:
-. PDRB ADHB: Mencapai Rp511,99 Triliun pada Triwulan I-2026.
-. Inflasi Terkendali: Mengalami deflasi bulanan -0,03% (mtm) pada April 2026, membuat laju inflasi tahunan turun ke angka 2,11% (yoy) (di bawah inflasi nasional sebesar 2,42%).
-. Optimisme Konsumen: Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) melonjak signifikan ke level 121,8 (berada di zona optimis).
-. Pengangguran dan Kemiskinan Turun: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2026 ditekan hingga 4,24% (di bawah nasional 4,74%). Sementara angka kemiskinan per September 2025 turun menjadi 9,39%.
-. Catatan Komoditas: Andil inflasi tahunan Jateng dominan didorong oleh kenaikan harga Minyak Goreng (0,06%), Angkutan Udara (0,04%), dan Telepon Seluler (0,03%). Sementara itu, Neraca Perdagangan kumulatif s.d. April 2026 masih defisit USD 1,27 Miliar akibat tingginya impor migas, meskipun sektor non-migas surplus USD 0,43 Miliar.
Kinerja APBN & APBD: Kantongi Surplus Belasan Triliun
Hingga 30 April 2026, eksekusi anggaran baik di tingkat pusat (APBN) maupun daerah (APBD Konsolidasi) di Jawa Tengah menunjukkan rapor yang sangat sehat.
1. Rapor APBN Regional (S.d. 30 April 2026)
APBN Regional Jateng mencatatkan Surplus Anggaran sebesar Rp5,67 Triliun yang didorong oleh kuatnya pendapatan negara.
-. Pendapatan Negara: Terealisasi Rp39,08 Triliun (29,84% dari target), tumbuh 9,36% (yoy). Penerimaan ini ditopang Pajak Dalam Negeri (PPh tumbuh 25,72% dan PPN melonjak 44,17%) serta PNBP yang tumbuh kuat 8,62%.
-. Belanja Negara: Terealisasi Rp33,41 Triliun (34,74% dari pagu). Belanja Kementerian/Lembaga melonjak 23,71% (yoy), didorong oleh Belanja Modal yang tumbuh luar biasa 163,85% (yoy) akibat akselerasi kontrak dini. Sementara Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) terealisasi Rp22,94 Triliun.
2. Rapor APBD Konsolidasi (36 Pemda se-Jateng)
Kondisi fiskal daerah tercatat sangat sehat dengan Surplus APBD mencapai Rp10,95 Triliun dan saldo SiLPA sebesar Rp12,36 Triliun. Pendapatan daerah tercatat Rp32,74 Triliun dengan realisasi belanja Rp21,80 Triliun. Angka ini menunjukkan masih adanya ruang longgar bagi pemda untuk menggenjot belanja di periode berikutnya.
KEK Batang: Megaproyek Terbesar, Siap Bangun Dry Port Juni 2026
Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) atau KEK Batang resmi menjadi motor baru transformasi struktural di Jateng. Memiliki total rencana lahan seluas 4.300 Hektar (terbesar di Indonesia), KEK Batang sukses menarik 34 investor global dalam tiga tahun pertama dengan komitmen investasi kumulatif Rp22 Triliun (ditargetkan menyentuh Rp70 Triliun pada 2030).
“Hingga akhir 2025, tercatat sudah ada 48 perusahaan aktif di berbagai sektor (logam, alas kaki, ekosistem baterai, kuliner) dan telah menyerap 9.768 tenaga kerja. Saat beroperasi penuh, kawasan ini diproyeksikan menyerap 250.000 tenaga kerja”, jelas Bayu.
Untuk memangkas biaya logistik ekspor-impor secara masif, sinergi 5 instansi (KAI, Pelindo, KITB, SPJT, dan Perumda Batang) telah meneken MoU untuk pembangunan Dry Port seluas 30 Ha. Proyek jalur kereta barang langsung ke Pelabuhan Batang ini dijadwalkan melakukan groundbreaking pada Juni 2026 dengan kapasitas awal 600.000 TEUs.
Dukungan Pembiayaan UMKM Per Regional
Pemerintah juga terus memperluas akses permodalan bagi UMKM di Jawa Tengah melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) per 30 April 2026 dengan rincian sebagai berikut:
-. Penyaluran KUR (Kredit Usaha Rakyat):
Tertinggi: Kabupaten Pati memimpin dengan total penyaluran mencapai Rp1.081,0 Miliar yang menyasar hingga 18.182 debitur.
Terendah: Kota Magelang mencatatkan realisasi terendah sebesar Rp45,3 Miliar untuk 797 debitur.
-. Penyaluran UMi (Ultra Mikro):
Tertinggi: Kabupaten Brebes menjadi yang terdepan dengan nilai pembiayaan mencapai Rp53,7 Miliar bagi 9.085 debitur mikro.
Terendah: Kota Magelang kembali mencatat angka terkecil dengan realisasi Rp0,9 Miliar untuk 173 debitur.
Melalui kombinasi ketahanan fiskal, akselerasi proyek strategis nasional seperti KEK Batang, dan penguatan bantalan ekonomi lokal lewat UMKM, Provinsi Jawa Tengah optimistis dapat terus menjaga tren pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di sepanjang tahun 2026.

Komentar