BERITASEMARANG.ID 0 – Jajaran civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mendapat arahan taktis langsung dari Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk memperkuat strategi komunikasi publik. Kehadiran Staf Khusus (Stafsus) dan Staf Ahli Menteri Agama dalam acara “Peningkatan Pelayanan Informasi di PTKIN, Mewujudkan Kampus Informatif” di Ruang Teater Gedung KH Saleh Darat, Jumat (5/6), menjadi momentum penting bagi penguatan keterbukaan informasi di lingkungan kampus.
Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., menyambut hangat kehadiran para pejabat kementerian tersebut. Ia menegaskan, pandangan dan arahan dari pusat merupakan komitmen nyata untuk mendorong UIN Walisongo bersaing di level tertinggi perguruan tinggi nasional.
”Universitas saat ini luar biasa bersaing, kalau kita tidak punya strategi yang bagus, kita akan kalah saing. Kita juga hebat, tidak perlu minder dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,” ujar Prof. Musahadi di hadapan jajarannya.
Apresiasi sekaligus tantangan besar disampaikan oleh Stafsus Menteri Agama RI, Dr. H. Ismail Cawidu, M.Si. Ia mengungkapkan hal unik di mana dirinya sempat menguji responsivitas dan rekam jejak digital rektor baru—yang belum genap tiga bulan memimpin—menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dr. Ismail menekankan pentingnya mempertahankan predikat Kampus Informatif yang selama ini telah melekat pada UIN Walisongo. Menurutnya, keterlibatan aktif pimpinan dalam setiap tahapan penilaian, khususnya sesi wawancara, akan menjadi poin penentu yang krusial.
”Salah satu indikator keberhasilan rektor adalah kampusnya sudah meraih predikat informatif atau belum. Usahakan predikat informatif ini dipertahankan tahun ini dan tahun-tahun ke depan,” cetus Dr. Ismail. Ia juga menginstruksikan agar seluruh kegiatan lembaga wajib diberitakan secara masif kepada publik.
Di sisi lain, Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Keagamaan Kemenag, Prof. Dr. Iswandi Syahputra, S.Ag., M.Si., mengingatkan tantangan berat kehumasan di era digital. Ia menyoroti fenomena era post-truth dan maraknya para “clipper creator”—pihak yang sengaja memotong video demi memanipulasi algoritma media sosial demi keuntungan komersial tanpa memedulikan konteks utuh.
Mengingat isu keagamaan sangat sensitif di ruang digital, Prof. Iswandi menegaskan bahwa tantangan asimetris ini tidak bisa lagi dihadapi dengan manajemen informasi konvensional. Penguatan literasi digital dan pengelolaan informasi publik yang transparan namun penuh kehati-hatian—terutama menyangkut tata kelola keuangan dan administrasi—harus menjadi prioritas utama agar tidak menjadi polemik di media sosial.

Komentar