BERITASEMARANG.ID — Perkembangan ilmu genetika kini menjadi fondasi penting dalam dunia medis modern. Tidak sekadar membahas pewarisan sifat, riset genetika bertransformasi menjadi kunci deteksi dini risiko penyakit hingga penentuan terapi pengobatan yang presisi bagi setiap individu.
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) mengambil peran aktif sebagai pelopor pengembangan riset dan layanan kesehatan berbasis genetika di Indonesia. Langkah ini dihadirkan untuk menjawab tantangan kesehatan masa depan melalui pendekatan preventif dan personal.
Pakar Genetika FK UNDIP, Prof. Dr. dr. Tri Indah Winarni, M.Si.Med., PAK(K), menjelaskan bahwa Deoxyribonucleic Acid (DNA) bekerja sebagai pusat kendali yang mengatur mekanisme tubuh, termasuk pembentukan protein dan respons terhadap penyakit.
“Genetika membantu kita memahami mengapa seseorang bisa sakit, bagaimana penyakit itu berkembang, dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya sejak awal,” ujar pakar yang akrab disapa Prof. Iin tersebut, Senin (20/7).
Komitmen UNDIP dalam keilmuan ini telah dirintis sejak 2007 dengan membuka program Magister (S2) Konseling Genetika pertama di Indonesia. Keberadaan konselor genetik dinilai krusial untuk mendampingi pasien memahami manfaat, risiko, dan konsekuensi pemeriksaan medis secara utuh.
Selain itu, UNDIP turut membidani lahirnya organisasi profesi Indonesian Society of Human Genetics (InaSHG) pada 2014, serta memperkuat infrastruktur layanan kesehatan berbasis genetik, antara lain:
- Laboratorium Sitogenetik & Pemeriksaan Molekuler: Untuk analisis kelainan kromosom dan genetik tingkat lanjut.
- Klinik Genetik RSND: Beroperasi sejak Februari 2024 di Rumah Sakit Nasional Diponegoro sebagai pusat konsultasi masyarakat.
- Teknologi Face2Gene: Digunakan untuk deteksi dini dugaan kelainan genetik, sindromik, dan Differences of Sex Development (DSD).
- Community Genetic Research Center: Pusat riset dan edukasi publik terkait genetika yang berdiri sejak 2022.
Prof. Iin menekankan pentingnya deteksi dini pada penyakit multifaktorial—seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung, stroke, hingga kanker—yang dipicu oleh kombinasi faktor genetik dan gaya hidup.
Salah satu skema yang terus didorong adalah pemeriksaan cancer panel untuk mengidentifikasi potensi kanker pada individu dengan riwayat keluarga sebelum gejala muncul. Langkah preventif ini dinilai tak hanya meningkatkan peluang kesembuhan, tetapi juga menekan beban biaya kesehatan jangka panjang.
Sejalan dengan program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) dari Kementerian Kesehatan, UNDIP terus mendorong para tenaga medis di Indonesia untuk mengintegrasikan ilmu genetika menuju era kedokteran presisi.

Komentar