Ekonomi Nasional

Kepercayaan Developer Indonesia terhadap AI Tetap Tinggi, Biaya Jadi Tantangan Adopsi

BERITASEMARANG.ID – Kepercayaan pengembang perangkat lunak di Indonesia terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) tetap tinggi di tengah semakin luasnya penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak. Namun, peningkatan pemanfaatan tersebut diikuti tantangan baru, terutama terkait disiplin biaya dan kesiapan organisasi.

Temuan tersebut terungkap dalam AI Developer Report 2026 yang dirilis platform perjalanan digital Agoda, Jumat (25/9/2026). Studi yang dilakukan bersama Macramé Consulting tersebut melibatkan lebih dari 800 pengembang perangkat lunak aktif dan pemimpin bidang engineering di tujuh pasar Asia Tenggara dan India.

Dalam laporan tersebut, sebanyak 82,7 persen pengembang di Indonesia menyatakan mengalami peningkatan kepercayaan diri atau penggunaan AI. Angka ini menunjukkan semakin kuatnya posisi AI dalam aktivitas pengembangan perangkat lunak.

Meski demikian, manfaat produktivitas yang dirasakan pengembang Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam penghematan waktu. Hanya 46,9 persen pengembang Indonesia yang mengaku dapat menghemat tujuh jam atau lebih per minggu melalui penggunaan AI. Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan tujuh pasar yang disurvei.

Secara regional, penggunaan AI menunjukkan peningkatan signifikan. Lebih dari separuh responden atau 55 persen mengaku menghemat setidaknya tujuh jam setiap minggu, meningkat tajam dibandingkan 18 persen pada 2025.

Ofero Rayakan Kebersamaan O-Ladies di 4 Kota, Luncurkan Magical 3 Pro dengan Warna Baru dan Parfum Eksklusif  

Kegunaan kode yang dihasilkan AI juga semakin meningkat. Sebanyak 62 persen responden menyatakan kode yang dihasilkan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa perubahan besar.

AI kini tidak hanya digunakan untuk membantu penulisan kode, tetapi juga merambah berbagai aktivitas pengembangan, mulai dari peninjauan kode, arsitektur, debugging, pembelajaran hingga dokumentasi.

Meski demikian, keterlibatan manusia masih menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Sebanyak 86 persen responden mengaku selalu atau hampir selalu meninjau maupun memvalidasi hasil yang diberikan AI.

Biaya Jadi Hambatan Utama

Perkembangan AI agent atau agen AI yang mampu menjalankan serangkaian tugas secara lebih mandiri juga semakin terlihat dalam lingkungan kerja pengembang.

BYD Haka Tegal Hadir, Masyarakat Kini Bisa Beli Mobil Listrik BYD Lebih Dekat

Lebih dari separuh responden, yakni 53 persen, menyebut AI agent telah digunakan dalam alur kerja produksi tertentu atau secara luas di organisasi mereka. Namun, kesiapan menuju AI agent yang sepenuhnya otonom masih terbatas. Hanya 38 persen responden yang menilai codebase mereka sebagian besar atau sepenuhnya siap untuk penerapan tersebut.

Dalam konteks Indonesia, 27,7 persen pengembang menyebut biaya sebagai kendala utama dalam penggunaan AI agent.

Secara keseluruhan, biaya menjadi hambatan utama dalam adopsi AI yang lebih luas, dengan sekitar 28 persen responden menyebutnya sebagai kendala. Hambatan berikutnya adalah kompleksitas integrasi sebesar 24 persen dan kurangnya tata kelola sebesar 19 persen.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa biaya AI tidak hanya berasal dari penggunaan model. Organisasi juga harus memperhitungkan biaya untuk merancang, mengintegrasikan, meninjau, mengawasi, serta memvalidasi AI agent sebelum digunakan dalam lingkungan produksi.

Empat dari lima responden bahkan menyatakan saat ini mereka bekerja dengan berbagai pembatasan penggunaan AI, seperti kuota token, batas pemakaian maupun pembatasan anggaran.

Jateng Gelorakan Gerakan ‘Sopan’: Satu Rumah Satu Sumur Resapan Demi Jaga Air Tanah

AI Makin Otonom, Manusia Tetap Memegang Kendali

Meskipun pengembang semakin terbuka terhadap penggunaan AI agent, pengawasan manusia tetap menjadi prinsip penting, terutama ketika AI mulai menangani pekerjaan yang berdampak langsung pada sistem produksi.

Sebanyak 79 persen responden menyatakan organisasi mereka masih mewajibkan persetujuan manusia sebelum hasil AI diterapkan ke tahap produksi.

Pengembang cenderung lebih terbuka memberikan otonomi kepada AI untuk mengerjakan tugas berisiko rendah dan dapat dibatalkan, seperti dokumentasi. Namun, semakin dekat dengan tahap produksi, kebutuhan terhadap verifikasi dan persetujuan manusia semakin besar.

Laporan juga memperkirakan perubahan signifikan terhadap peran pengembang dalam beberapa tahun ke depan. Sekitar 70 persen responden memperkirakan AI agent akan menangani sebagian besar pekerjaan pengembangan dalam tiga tahun mendatang.

Perubahan tersebut turut mendorong munculnya kebutuhan terhadap keterampilan baru, antara lain arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta kemampuan mengorkestrasi AI agent.

Namun, optimisme tersebut tidak dirasakan secara merata oleh semua kelompok pengembang. Sebanyak 49 persen pengembang pemula mengaku kurang yakin terhadap prospek karier mereka di masa depan, dibandingkan 16,7 persen responden yang berada pada posisi CTO dan VP Engineering.

Chief Technology Officer Agoda, Idan Zalzberg, mengatakan perkembangan AI telah mengubah cara pengembang di Asia Tenggara dan India membangun perangkat lunak, belajar, dan berkolaborasi.

Menurut dia, penggunaan AI yang semula berfokus pada percepatan tugas individual kini berkembang menjadi perubahan yang lebih luas dalam proses pengembangan perangkat lunak.

“Namun, kemampuan yang lebih besar membawa tanggung jawab baru. Biaya sesungguhnya bukan hanya pada pengadaan model, melainkan juga pada upaya yang diperlukan untuk membuat AI dapat dipercaya di tahap produksi,” kata Idan.

Ia menambahkan, organisasi perlu mengelola biaya secara cermat, membangun perlindungan yang tepat, serta tetap menempatkan penilaian manusia pada aspek-aspek yang paling penting.

Studi AI Developer Report 2026 dilakukan melalui survei online pada Juni hingga Agustus 2026. Responden berasal dari India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam dengan latar belakang tingkat pengalaman, ukuran perusahaan, serta sektor industri yang beragam.

Penelitian tersebut mencakup kinerja AI di seluruh siklus pengembangan perangkat lunak, adopsi AI agent dan kesiapan organisasi, biaya agentic AI, kepercayaan dan akuntabilitas, serta perubahan pengalaman para pengembang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement