BERITASEMARANG.ID — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Semarang mengambil langkah tegas guna membendung arus penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu (OOT) yang kian mengancam generasi muda. Melalui Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan OOT 2026, BBPOM memperingatkan bahwa peredaran obat ilegal ini telah memasuki tahap yang sangat memprihatinkan.
Kepala BBPOM Semarang, Rustyawati, menegaskan bahwa kelompok usia produktif dan pelajar kini menjadi sasaran utama peredaran gelap ini. Jika tidak ditangani serius, fenomena ini berpotensi menjadi ancaman nyata bagi masa depan dan pembangunan nasional.
”Penyalahgunaan OOT saat ini sudah sangat memprihatinkan, dan menjadi ancaman tersembunyi yang mengintai generasi muda kita,” ujar Rustyawati di Aula Lawang Sewu, Kantor BBPOM di Semarang, Senin (25/5/2026).
Efek Domino: Dari Halusinasi hingga Tindakan Kriminal
Menurut Rustyawati, obat-obatan seperti tramadol, triheksifenidil, ketamin, hingga dekstrometorfan sejatinya diproduksi untuk keperluan medis. Namun, kelompok remaja kerap menyalahgunakannya demi mendapatkan efek halusinasi, peningkatan keberanian, hingga euforia instan.
Dampak dari penyalahgunaan ini tidak hanya merusak fisik dan mental, tetapi juga memicu masalah sosial yang lebih besar.
”Secara sosial, ini juga sangat membahayakan karena orang tersebut tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, sehingga rawan atau berpotensi melakukan kejahatan atau kegiatan anarkis di lingkungan sosial,” bebernya.
Temuan Fantastis BBPOM: Pabrik Ilegal dan Jalur Online
Dalam komitmennya memberantas obat ilegal, BBPOM mengungkap fakta mengejutkan mengenai masifnya produksi OOT. Melalui operasi penegakan hukum di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah, petugas berhasil mengamankan lebih dari 1 miliar tablet OOT ilegal dengan nilai fantastis mencapai Rp398 miliar.
“Bayangkan berapa juta generasi muda yang bisa dirusak dari jumlah sebanyak itu,” sorot Rustyawati.
Selain produksi skala besar, BBPOM mengaku menghadapi tantangan berat di era digital. Modus penjualan kini bergeser ke marketplace dan media sosial. Ironisnya, meski BBPOM berulang kali menutup akun-akun nakal tersebut, mereka kerap muncul kembali dengan identitas baru.
Rekam Jejak Penindakan BBPOM di Jawa Tengah
BBPOM Semarang merinci sejumlah keberhasilan operasi penertiban yang dilakukan secara konsisten dari tahun ke tahun:
- 2019 (Tembalang, Semarang): Penyitaan 3.000 tablet pil LL (trihex).
- 2020 (Magelang): Penyitaan 3.000 tablet pil LL.
- 2021 (Semarang Barat): Penyitaan 45.100 tablet pil LL.
- 2023 & 2024: Penertiban di Kebumen dan Kabupaten Tegal bersama BNNK dan Polres setempat.
- 25 Maret 2024 (Ngaliyan, Semarang): BBPOM bersama BIN dan BAIS membongkar pabrik OOT di Kawasan Industri Candi dengan nilai temuan Rp317 juta.
- 2025 (Pekalongan): Penghentian sementara operasional 4 apotek akibat menyerahkan psikotropika (alprazolam) tanpa analisis kewajaran.
Kolaborasi Lintas Sektor
Menyadari bahwa BBPOM tidak bisa berjalan sendiri, Rustyawati mengajak seluruh elemen—mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, instansi pendidikan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat—untuk bersinergi.
Langkah BBPOM ini didukung penuh oleh Polda Jawa Tengah. Kabag Bin Ops Ditresnarkoba Polda Jateng, AKBP Wiyoto, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2026 hingga bulan Mei, pihak kepolisian telah mengungkap 120 kasus OOT dengan 142 tersangka di Jawa Tengah, dengan wilayah kerawanan tertinggi di antaranya Semarang, Surakarta, Banyumas, dan Cilacap.
Di akhir paparannya, Rustyawati berpesan agar para remaja tidak terjebak dalam tekanan pergaulan yang keliru. “Banyak anak muda merasa kalau tidak ikut-ikutan dianggap tidak keren. Padahal, orang keren itu justru yang berani bilang tidak,” pungkasnya.

Komentar