BERITASEMARANG.ID – Universitas Diponegoro (Undip) meneguhkan komitmennya untuk menjadi perguruan tinggi berkelas dunia yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut menjadi pesan utama dalam peringatan Dies Natalis ke-69 Undip yang digelar di Muladi Dome, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Kamis (15/10/2026).
Mengusung semangat “Bersinergi, Berinovasi, Berdampak untuk Negeri”, Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., dalam pidatonya menekankan bahwa keberhasilan sebuah universitas tidak cukup diukur dari reputasi, pemeringkatan, publikasi ilmiah, maupun jumlah inovasi yang dihasilkan. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus mampu menerjemahkan keunggulan akademik menjadi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Universitas yang baik menghasilkan pengetahuan, universitas yang hebat mengubah pengetahuan menjadi solusi, dan universitas yang bermartabat memastikan solusi tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan dalam pidato Dies Natalis ke-69 Undip.
Menurut Suharnomo, peran perguruan tinggi semakin penting di tengah tantangan global, mulai dari perubahan iklim, krisis lingkungan, hingga berbagai persoalan sosial yang membutuhkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
Karena itu, pendidikan tinggi tidak boleh terpisah dari realitas kehidupan masyarakat. Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan sekaligus pusat pengembangan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan bangsa.
Undip Perkuat Reputasi Global melalui Komitmen Keberlanjutan
Salah satu capaian yang disoroti dalam pidato tersebut adalah keberhasilan Undip dalam bidang pembangunan berkelanjutan. Dalam pemeringkatan UI GreenMetric 2026, Undip menempati peringkat ke-20 dunia, peringkat ketiga di Asia, dan peringkat kedua nasional.
Capaian tersebut sekaligus mempertahankan posisi Undip sebagai perguruan tinggi terbaik kedua di Indonesia dalam pemeringkatan tersebut selama dua tahun berturut-turut hingga 2026.
Undip juga memperoleh pengakuan khusus pada bidang energi dan perubahan iklim serta transportasi. Prestasi ini dinilai sebagai cerminan komitmen universitas dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam tata kelola kampus, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selain itu, Undip terus memperkuat reputasi akademiknya melalui berbagai pemeringkatan nasional dan internasional. Pada 2026, Undip menempati peringkat keempat nasional dalam pemeringkatan SINTA dan peringkat keenam nasional dalam pemeringkatan Open Edition, yang antara lain menilai produktivitas publikasi ilmiah serta kontribusi akademik.
Berbagai capaian tersebut menjadi modal penting bagi Undip untuk memperkuat daya saing global dan melanjutkan langkah menuju jajaran 500 universitas terbaik dunia.
Teknologi Desalinasi hingga Inovasi Pengolahan Sampah
Komitmen Undip dalam menghadirkan solusi bagi masyarakat diwujudkan melalui berbagai inovasi yang menjawab persoalan nyata, salah satunya teknologi desalinasi air laut menjadi air siap minum.
Teknologi tersebut telah diterapkan di sejumlah wilayah Pantura Jawa Tengah, antara lain Blora, Pemalang, Brebes, Pekalongan, dan Pati, dengan kapasitas produksi yang disebut dapat mencapai 200.000 liter per hari.
Pemanfaatan teknologi pengolahan air juga menjangkau kawasan terisolasi seperti Nusakambangan serta wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Pada 2026, teknologi water treatment dikembangkan menjadi perangkat bergerak yang mampu memproduksi lebih dari 20.000 liter air bersih dan 2.000 liter air minum per hari. Lima unit teknologi tersebut telah diserahkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara lima unit lainnya masih dalam proses.
Di bidang lingkungan, Undip juga mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Sampah organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan melalui budidaya maggot, sedangkan sampah plastik dikembangkan menjadi sumber energi melalui teknologi hidrolisis.
Praktik tersebut menjadi bagian dari upaya Undip mewujudkan kampus berkonsep zero waste. Pendekatan ini tidak sekadar menekan volume sampah, tetapi juga mengubah limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna.
Upaya keberlanjutan tersebut diperkuat melalui pengembangan sistem pemanenan dan pemanfaatan air hujan serta perluasan penggunaan energi surya. Di kampus Undip Jepara, teknologi pemanenan air hujan mampu menghasilkan lebih dari 11.100 liter air dalam satu siklus.
Berbagai inovasi itu menjadikan kampus sebagai laboratorium nyata untuk mengembangkan praktik pembangunan berkelanjutan yang dapat diterapkan lebih luas oleh masyarakat.
Inovasi Perikanan dan Pangan Perkuat Ekonomi Masyarakat
Di sektor kelautan dan perikanan, Undip berkontribusi melalui pengembangan ekosistem bisnis dan hilirisasi produk perikanan melalui MarineSA di Jepara.
Pendampingan terhadap pelaku usaha perikanan lokal berhasil membantu produk mereka menembus pasar ekspor, antara lain Jepang, Singapura, dan Sri Lanka.
Program tersebut tidak hanya memperluas akses pasar, tetapi juga memperkuat perekonomian masyarakat pesisir. Ekosistem usaha yang dikembangkan melibatkan sekitar 1.200 nelayan yang beroperasi menggunakan 100 kapal di pesisir utara Jawa serta membuka lapangan kerja bagi lebih dari 200 tenaga kerja perempuan.
Pada 2025, ekspor teri nasi ke Jepang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Hingga 2026, mitra program tersebut telah melakukan sembilan kali ekspor ke Jepang dan Singapura. Pada September 2026, hasil tangkapan nelayan Pantura sebanyak 19 ton juga berhasil diekspor ke Sri Lanka.
Undip turut mengembangkan teknologi pengeringan rumput laut berbasis energi surya dan biomassa untuk meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk kelautan.
Di bidang pangan dan peternakan, para peneliti Undip mengembangkan beras analog bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Salatiga. Inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus memperkuat harga jual produk di tingkat petani.
Sementara itu, tim peneliti Program Studi Gizi mengembangkan The Visco Biscuit, biskuit berbahan pangan lokal yang ditujukan bagi ibu hamil sebagai salah satu alternatif makanan bergizi untuk mendukung pencegahan stunting.
Dalam bidang peternakan, kolaborasi melalui program IndoDairy 2 dengan lembaga riset Australia juga menghasilkan pengembangan sistem air minum otomatis bagi sapi perah. Teknologi ini diarahkan untuk mendukung kesehatan ternak sekaligus mendorong produktivitas peternakan yang lebih berkelanjutan.
Kontribusi di Bidang Energi, Kesehatan, dan Hak Asasi Manusia
Kontribusi penelitian Undip juga menjangkau sektor strategis lainnya. Di bidang energi, peneliti Undip, Dr. Heru Susanto, berkolaborasi dengan mitra internasional untuk mengembangkan teknologi pemulihan atau recovery yang dinilai memiliki arti penting bagi masa depan energi dan industri.
Di bidang kesehatan, perangkat lunak IndoVCT yang dikembangkan peneliti Undip, Khairul Anam, telah digunakan oleh pengguna di lebih dari 90 negara.
Undip juga mengembangkan teknologi pemrosesan citra CT scan melalui inovasi yang dikenal sebagai IndoVisi. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mengurangi paparan radiasi yang berpotensi membahayakan pasien dalam pemeriksaan CT scan.
Dalam ranah tata kelola digital, Undip turut menjalin kerja sama dengan UNESCO untuk mendukung pengembangan platform digital yang lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada perlindungan hak asasi manusia, terutama di kawasan Asia.
Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi lintas sektor, mulai dari ketahanan energi, peningkatan kualitas layanan kesehatan, hingga penguatan tata kelola yang lebih baik.
Mahasiswa Torehkan 129 Prestasi Nasional dan Internasional
Prestasi Undip sepanjang 2026 tidak hanya berasal dari dosen dan peneliti, tetapi juga dari mahasiswa. Dalam pidatonya, Suharnomo menyampaikan bahwa mahasiswa Undip telah mencatatkan 129 prestasi dalam berbagai kompetisi nasional dan internasional.
Jumlah tersebut terdiri atas 85 prestasi tingkat nasional dan 44 prestasi tingkat internasional.
Di bidang robotika dan kecerdasan buatan, tim peneliti serta mahasiswa Fakultas Teknik yang dipimpin Dr. Muhammad Aryanto berhasil mengembangkan robot pencarian dan penyelamatan korban bencana bernama Cyber Insight.
Inovasi tersebut dirancang untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi yang sulit dijangkau manusia. Karya ini meraih penghargaan khusus dalam Malaysia Technology Expo 2026 dan mendapat undangan untuk dikembangkan lebih lanjut bagi kebutuhan penanggulangan bencana.
Prestasi internasional juga diraih tim Antawir Undip yang meraih dua gelar juara dalam kompetisi Shell Eco-marathon Asia-Pacific and the Middle East 2026 di Qatar. Tim tersebut sekaligus terpilih sebagai wakil Asia menuju kompetisi lanjutan.
Di ajang Kontes Mobil Hemat Energi 2026, tim Undip juga meraih dua gelar juara pertama.
Sementara itu, tim Undip dalam Kontes Kapal Indonesia 2026 berhasil membawa pulang enam penghargaan, termasuk tiga juara pertama dalam kategori inovasi desain dan konstruksi, inovasi mesin, serta elektrik remote control.
Prestasi lainnya diraih tim Kontes Robot Terbang Indonesia yang menjadi juara pertama nasional pada divisi vertical take-off and landing (VTOL).
Pada bidang seni dan budaya, kontingen Undip juga meraih gelar juara umum dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah Jawa Tengah 2026. Capaian ini menunjukkan bahwa pengembangan mahasiswa di Undip tidak hanya berorientasi pada keunggulan akademik, tetapi juga mencakup kreativitas, seni, dan pembentukan karakter.
Perkuat Kolaborasi Internasional dan Transformasi Digital
Dalam upaya memperkuat reputasi akademik global, Undip terus memperluas jaringan kerja sama nasional dan internasional. Pada 2026, universitas menjalin kemitraan dengan sejumlah institusi, termasuk mitra di Paris dan Singapura, untuk mengembangkan teknologi strategis seperti kecerdasan buatan, keamanan siber, Internet of Things (IoT), dan big data.
Transformasi digital juga menjadi salah satu agenda penting. Undip memperkuat integrasi sistem informasi melalui pengembangan layanan digital bagi mahasiswa dan tenaga pendidikan, penguatan pusat data, serta penerapan sistem satu data universitas.
Sistem informasi yang sebelumnya berjalan secara terpisah diarahkan menjadi satu ekosistem terintegrasi yang lebih komprehensif dan andal.
Penguatan infrastruktur jaringan serat optik dan kapasitas jaringan yang menjangkau seluruh fakultas menjadi bagian dari upaya tersebut. Langkah ini diharapkan mendukung proses pendidikan, penelitian, pelayanan akademik, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Di sisi infrastruktur fisik, Undip terus mengembangkan lingkungan kampus yang sehat, hijau, inklusif, dan mendukung pendidikan berkelas dunia.
Pengembangan fasilitas pendidikan, termasuk pembangunan gedung bertingkat untuk mendukung kegiatan Sekolah Vokasi dan Fakultas Hukum, menjadi bagian dari penguatan sarana akademik.
Universitas juga merevitalisasi taman dan ruang terbuka hijau serta meningkatkan kualitas fasilitas olahraga, termasuk lintasan lari di lingkungan kampus, agar dapat dimanfaatkan mahasiswa maupun masyarakat.
Bagi Undip, ruang hijau tidak sekadar menjadi unsur estetika, melainkan juga sarana edukasi, rekreasi, dan interaksi sosial yang memperkuat karakter kampus berkelanjutan.
Menuju Indonesia Emas 2045
Rangkaian peringatan Dies Natalis ke-69 Undip juga diisi dengan orasi ilmiah oleh Pungkas Bahjuri Ali dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), dengan tema “Dari Kampus Hijau Menuju Solusi bagi Indonesia Emas 2045”.
Tema tersebut menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung agenda pembangunan nasional melalui penguatan ilmu pengetahuan, inovasi, sumber daya manusia, dan pembangunan berkelanjutan.
Kampus diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga melahirkan pemikiran dan teknologi yang mampu menjawab tantangan pembangunan Indonesia dalam jangka panjang.
Dalam pidatonya, Suharnomo juga menyampaikan apresiasi kepada dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam perjalanan Undip.
Menurutnya, berbagai capaian yang diraih merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika. Tantangan berikutnya adalah mengonsolidasikan keunggulan tersebut agar menjadi kekuatan bersama yang menghasilkan dampak nyata bagi bangsa.
Ia menegaskan, reputasi dan pemeringkatan tetap penting, tetapi ukuran utama keberhasilan perguruan tinggi terletak pada kemampuannya menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Memasuki usia ke-69, Undip bertekad terus bertumbuh menjadi pusat ilmu pengetahuan yang tidak hanya unggul di tingkat global, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional.
Semangat “Bersinergi, Berinovasi, Berdampak untuk Negeri” menjadi landasan bagi Undip untuk melangkah menuju satu abad kejayaan, sekaligus memperkuat kontribusinya dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Komentar