Pendidikan Ruang Pembaca

Hardiknas di Era Gen-AI: Robot Jadi Guru atau Guru Jadi Maestro Peradaban?

BERITASEMARANG.ID  – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei tahun ini menghadapi tantangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) seperti ChatGPT telah mengubah lanskap ruang kelas secara radikal, memicu pertanyaan besar: apakah robot akan menggantikan peran guru?

​Menanggapi fenomena ini, pakar manajemen pendidikan dari Universitas IVET (Univet) Semarang, Dr. N.A.N. Murniati, MPd, menegaskan bahwa esensi pendidikan jauh melampaui sekadar transfer informasi yang bisa dilakukan oleh mesin.

​”Jika pendidikan hanya dipandang sebagai proses transfer data, maka posisi guru memang terancam. AI memiliki basis data tak terbatas dan kecepatan instan. Namun, pendidikan adalah ‘tuntunan bagi tumbuhnya kodrat anak’, sebuah ruh yang hanya dimiliki oleh manusia,” ujar Dr. Murniati dalam refleksinya memperingati Hardiknas 2026.

​Relevansi Ajaran Ki Hajar Dewantara

​Menurut Dr. Murniati, filosofi Triloka Ki Hajar Dewantara justru menjadi kompas krusial di tengah rimba digital saat ini. Prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha, misalnya, kini bertransformasi menjadi tantangan bagi guru untuk menjadi Role Model Digital.

​Di tengah banjir informasi dan risiko misinformasi, guru harus berdiri di garda depan untuk mencontohkan integritas akademik serta etika berkomunikasi yang bijak.

Sentuhan Humanis Wali Kota Semarang: Ajak Anak Yatim Nobar ‘Children of Heaven’ dan Pompa Semangat Raih Mimpi

​”Keteladanan guru masa kini bukan lagi soal wibawa fisik, melainkan bagaimana menjadi manusia beradab di dunia virtual. Kecanggihan alat harus dibarengi dengan keluhuran budi,” tambahnya.

​Guru Sebagai Maestro, Bukan Operator

​Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya guru berevolusi menjadi seorang Maestro Pembelajaran (berdasarkan prinsip Ing Madya Mangun Karsa). Layaknya maestro musik, guru bertugas mengorkestrasi berbagai instrumen—termasuk AI—untuk menciptakan harmoni pembelajaran yang menggugah nalar kritis siswa.

​”Guru tidak perlu takut pada AI. Justru gunakan AI sebagai instrumen untuk melahirkan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang menantang kreativitas siswa. Tugas utama guru adalah memastikan teknologi memperluas cakrawala, bukan mematikan daya pikir,” jelasnya.

​Sentuhan Emosional yang Tak Tergantikan

​Dalam prinsip Tut Wuri Handayani, Dr. Murniati menyoroti aspek empati yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh barisan kode program secanggih apa pun. Robot tidak bisa merasakan kegelisahan siswa akibat perundungan siber atau kebingungan remaja dalam mencari jati diri.

​”Pendidikan sejati terjadi ketika seorang guru menatap mata siswanya dan berkata, ‘Aku percaya padamu.’ Kalimat magis ini tidak bisa dihasilkan oleh algoritma. Guru adalah jangkar emosional yang tak tergantikan,” tegas Dosen S2 Manajemen Pendidikan ini.

Honda Jateng Gencarkan Edukasi Etika Berkendara dan Tips Hadapi Pengendara Luar Kota

​Menutup refleksinya, Dr. Murniati mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan Hardiknas sebagai momentum mempertegas bahwa teknologi hanyalah alat, sementara pendidikan adalah seni memanusiakan manusia.

​”Jika guru hadir sebagai pendamping hidup, pemberi inspirasi, dan penjaga moral, mereka akan abadi. Di tangan guru yang menjadi maestrolah, masa depan Indonesia akan tetap hangat dan manusiawi meski di tengah kepungan robot pintar,” pungkasnya.

Tentang Penulis:

Dr. N.A.N. Murniati, MPd adalah Dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS dengan bidang keahlian Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan.

Dukung Pendidikan Generasi Muda, BYD Indonesia Luncurkan Program ‘Small Steps for Tomorrow’

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement