Serambi Islam

Mengapa Bersyukur Jadi ‘Booster’ Terbaik Seorang Muslim?

BERITASEMARANG.ID  – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh dengan tuntutan, seringkali kita merasa lelah dan kurang. Namun, Islam menawarkan sebuah solusi spiritual yang sederhana namun sangat berdampak pada kesehatan mental dan ketenangan batin: Syukur.

​Bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah“, bersyukur dalam Islam merupakan fondasi keimanan yang mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.

​Syukur: Janji Allah yang Tak Pernah Ingkar

​Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan jaminan yang sangat jelas mengenai syukur. Sebagaimana termaktub dalam Surah Ibrahim ayat 7:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

​Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukanlah sekadar respons atas nikmat, melainkan sebuah investasi. Ketika seorang hamba merasa cukup dan berterima kasih, Allah secara otomatis membuka pintu-pintu kemudahan lainnya.

Tim Peneliti USM Ciptakan Aplikasi BRIGHT, Raih Hibah Bergengsi BRIN-LPDP

​3 Cara Mengamalkan Syukur dalam Keseharian

​Menurut para ulama, bersyukur tidak hanya dilakukan di lisan, tetapi mencakup tiga dimensi utama:

  1. Syukur dengan Hati: Menyadari dengan sepenuh jiwa bahwa segala nikmat, sekecil apa pun (seperti napas di pagi hari), berasal murni dari pemberian Allah SWT.
  2. Syukur dengan Lisan: Membasahi lidah dengan kalimat tayyibah dan berhenti mengeluh kepada makhluk atas takdir yang diterima.
  3. Syukur dengan Perbuatan: Menggunakan nikmat yang diberikan (harta, kesehatan, waktu luang) untuk hal-hal yang bermanfaat dan diridhai Allah.

​Dampak Nyata pada Kesehatan Mental

​Secara sains, sikap syukur yang diajarkan Islam sejalan dengan prinsip positive psychology. Seseorang yang rutin bersyukur akan memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan emosi yang lebih stabil.

​Dalam perspektif Islam, ini disebut dengan Qana’ah, yakni merasa cukup dengan apa yang ada. Dengan Qana’ah, seorang Muslim tidak akan terjebak dalam perlombaan duniawi yang melelahkan (istidraj) dan lebih fokus pada perbaikan kualitas diri di hadapan Sang Pencipta.

Menjadi pribadi yang bersyukur tidak berarti kita berhenti berusaha. Justru dengan bersyukur, kita memiliki energi positif untuk bekerja lebih keras karena hati tidak lagi terbebani oleh rasa iri dan dengki terhadap pencapaian orang lain.

​Mari awali hari ini dengan satu tarikan napas lega dan ucapan, Alhamdulillah ‘ala kulli haal” (Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan).

Sambut Ramadan, Hari ini Kirab Dugderan Semarang Digelar: Cek Rute dan Rekayasa Lalu Lintasnya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement