BERITASEMARANG.ID – Muhammadiyah Zakat Summit 2026 resmi digelar di Rajawali Semarang Culture Center (RSCC), Semarang, Jumat (6/11/2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 230 pegiat zakat Lazismu dari berbagai wilayah di Indonesia tersebut menjadi momentum memperkuat gerakan filantropi Islam, meningkatkan tata kelola zakat, sekaligus memperluas manfaat program pemberdayaan masyarakat.
Mengusung semangat penguatan gerakan zakat Muhammadiyah, kegiatan ini menghadirkan sejumlah agenda strategis, mulai dari simposium, Rapat Kerja Nasional (Rakernas), forum tata kelola, hingga Lazismu Award 2026. Rangkaian kegiatan juga telah diawali dengan Sekolah Amil dan sertifikasi amil sejak 2 November 2026.
Ketua Badan Pengurus (BP) Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, menyampaikan bahwa Muhammadiyah Zakat Summit 2026 tidak sekadar menjadi forum pertemuan, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan berbagai produk dan gagasan yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Salah satu hasil kegiatan yang disiapkan adalah penerbitan prosiding nasional dari simposium sebagai wadah pengembangan kajian akademik mengenai filantropi. Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan dokumentasi perjalanan dan kontribusi para tokoh dalam gerakan Lazismu selama 40 tahun yang dihimpun dalam sebuah buku.
Ketua BP Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, M.IR., mengungkapkan, Muhammadiyah Zakat Summit dirancang untuk memperkuat gerakan zakat sekaligus menghadirkan gaung yang lebih luas kepada masyarakat.
Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi untuk mengevaluasi capaian, memperkuat kolaborasi, dan merumuskan arah pengembangan Lazismu ke depan.
Ia memaparkan, penghimpunan dana Lazismu secara nasional hingga saat ini telah mencapai sekitar Rp827,59 miliar, melampaui target awal sebesar Rp801 miliar. Dari jumlah tersebut, penyaluran mencapai sekitar Rp635 miliar dengan penerima manfaat sebanyak 132.225 orang.
Adapun sumber penghimpunan berasal dari infak sebesar Rp321 miliar, dana kurban Rp263 miliar, zakat Rp195 miliar, serta dana sosial lainnya sekitar Rp37 miliar.
Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Lazismu untuk memperluas jangkauan program dan meningkatkan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Dalam Rakernas kali ini, Lazismu juga mendorong peningkatan target penghimpunan menjadi Rp1 triliun pada tahun mendatang.
Ahmad Imam menambahkan, penguatan organisasi juga dilakukan melalui evaluasi kinerja Lazismu di berbagai wilayah. Selain itu, sejumlah program strategis terus dikembangkan, antara lain penguatan masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, layanan kesehatan, ketahanan pangan, akses air bersih, serta pengelolaan sampah dan lingkungan.
Sementara itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah sekaligus Bendahara PWM Jawa Tengah, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., menegaskan bahwa Lazismu memiliki peran penting bukan hanya dalam menghimpun dana umat, tetapi juga memastikan penyalurannya memberikan manfaat luas.
Menurutnya, berbagai program Lazismu telah berkontribusi terhadap sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia berharap kekuatan Lazismu sebagai lembaga filantropi Muhammadiyah dapat terus ditingkatkan sehingga menjadi salah satu instrumen strategis dalam membantu mengentaskan kemiskinan di Indonesia.
Apresiasi juga disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Ia berharap lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah, baik pemerintah maupun nonpemerintah, dapat terus memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Taj Yasin, pengelolaan zakat harus dilakukan dengan pemahaman yang tepat mengenai ketentuan dan kategori wajib zakat. Komunikasi yang baik diperlukan agar masyarakat memahami kewajiban zakat sesuai ketentuan syariat.
Ia juga mendorong Lazismu untuk memperluas program pemberdayaan yang menjawab persoalan masyarakat, termasuk penyediaan akses air bersih bagi wilayah yang mengalami kekeringan.
Taj Yasin mencontohkan program penguatan sumber air yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Program tersebut telah memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.
Dalam kesempatan yang sama, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D., menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam seluruh proses pengelolaan dana zakat.
Menurutnya, prinsip tersebut harus diterapkan mulai dari proses penghimpunan, pengelolaan keuangan, pendistribusian kepada penerima manfaat, hingga pelaporan dana kepada publik.
Ia menilai kepercayaan masyarakat merupakan modal utama bagi keberlanjutan gerakan filantropi. Karena itu, peningkatan penghimpunan harus berjalan seiring dengan penguatan tata kelola dan keterbukaan informasi.
“Jika transparansi dan akuntabilitas dapat terus diperkuat, kepercayaan masyarakat juga akan semakin meningkat,” menjadi pesan penting dalam pengembangan Lazismu ke depan.
Pembukaan Muhammadiyah Zakat Summit 2026 turut dihadiri Ketua BAZNAS Jawa Tengah, Dr. KH. Ahmad Darodji, M.Si.
Agenda penting lainnya ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) program 1.000 Beasiswa Siber Lazismu bersama Lazismu Pusat dan Universitas Siber Muhammadiyah. Program ini diharapkan memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kegiatan juga diisi dengan Lazismu Award 2026, sebagai bentuk apresiasi kepada Lazismu dari berbagai wilayah di Indonesia yang menunjukkan prestasi dan kontribusi dalam pengembangan gerakan zakat.
Melalui Muhammadiyah Zakat Summit 2026, Lazismu berharap konsolidasi nasional dapat semakin memperkuat profesionalisme amil, inovasi program, serta tata kelola filantropi Islam. Dengan demikian, zakat, infak, dan sedekah tidak hanya menjadi instrumen pengumpulan dana umat, tetapi juga kekuatan nyata dalam mendorong pemerataan kesejahteraan dan mengatasi persoalan sosial masyarakat.

Komentar