Ruang Pembaca Semarang

Refleksi Kebangkitan Nasional di Era Modern: Saatnya Menjadi Nahkoda atas Kedaulatan Diri

BERITASEMARANG.ID — Perubahan hidup sering kali datang seperti ombak besar yang menghantam pantai—tak terelakkan dan mampu mengubah segalanya. Baik karena transisi karier, perubahan hubungan, maupun perpindahan lingkungan, manusia modern kerap merasa terombang-ambing di tengah ketidakpastian global dan kecemasan.

​Menanggapi fenomena ini, pakar Manajemen Pendidikan dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Dr. N.A.N. Murniati, M.Pd., membagikan refleksi mendalam mengenai pentingnya kedaulatan diri. Menurutnya, semangat Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei kini harus ditransformasikan dari gerakan kolektif menjadi kebangkitan personal.

​”Lebih dari seabad lalu, pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo menyadari bahwa bangsa ini tidak bisa terus menjadi penumpang pasrah di kapal kolonialisme. Di era modern, musuh kita bukan lagi penjajah fisik, melainkan disrupsi global, kecemasan, dan hilangnya arah hidup. Di sinilah kedaulatan diri menjadi krusial,” ujar Dr. Murniati dalam rilis refleksinya.

​Dr. Murniati yang juga ahli dalam bidang Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan ini mengibaratkan hidup baru seperti sebuah kapal yang diluncurkan dari galangan. Kapal tersebut bisa berupa kapal baru yang canggih penuh ambisi, atau justru kapal tua yang lelah dan membawa beban luka masa lalu.

​Dalam kondisi yang penuh risiko, ia menegaskan bahwa manajemen diri bukanlah rutinitas harian yang menjemukan, melainkan instrumen navigasi vital.

Sentuhan Humanis Wali Kota Semarang: Ajak Anak Yatim Nobar ‘Children of Heaven’ dan Pompa Semangat Raih Mimpi

​”Tanpa kendali, kita sangat rentan terjebak dalam pusaran rutinitas atau kandas pada karang penyesalan masa lalu. Kehidupan menantang kita untuk menjadi nahkoda yang andal, yang mampu mengelola emosi, waktu, dan energi dengan kesadaran penuh (mindfulness),” tuturnya.

​Lebih lanjut, Dr. Murniati memaparkan bahwa ketangguhan (resiliensi) seorang nahkoda tidak datang tiba-tiba, melainkan dibentuk melalui praktik manajemen diri yang konsisten melalui tiga pilar utama:

  • Pilar Navigasi Visi: Visi bertindak sebagai mercusuar yang memberikan alasan kuat untuk bertahan saat kegelapan dan badai datang.
  • Pilar Disiplin di Dek Kapal: Membangun kebiasaan baru secara konsisten yang menjaga kapal tetap berada di jalur yang benar, bahkan saat motivasi sedang surut.
  • Pilar Keseimbangan Emosi: Kemampuan melihat hambatan bukan sebagai kegagalan permanen, melainkan sebagai “data” berharga untuk memperbaiki strategi.

​Kendati menuntut disiplin, Dr. Murniati mengingatkan agar manusia tidak berubah menjadi robot yang kaku. Kedaulatan diri yang utuh lahir dari perpaduan harmonis antara kecerdasan logika dan kedalaman rasa.

​Dengan membuka ruang bagi intuisi, empati, dan kejujuran pada perasaan, seseorang bisa tahu kapan harus bersikap tegas dan kapan harus memberikan waktu bagi diri sendiri untuk bernapas dan memulihkan tenaga.

​”Kebangkitan nasional hari ini adalah kebangkitan personal; sebuah komitmen untuk tidak membiarkan keadaan mendikte siapa diri kita. Kemenangan sejati bukan milik mereka yang memiliki kapal tercepat, melainkan milik mereka yang paling berdaulat atas kemudinya sendiri,” pungkasnya.

Honda Jateng Gencarkan Edukasi Etika Berkendara dan Tips Hadapi Pengendara Luar Kota

Penulis : Dr. N.A.N. Murniati, M.Pd.

(Dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement