BERITASEMARANG.ID — Keterbatasan anggaran sering kali menjadi momok bagi para sineas muda untuk berkarya. Namun, sutradara kondang tanah air, Joko Anwar, menegaskan bahwa minimnya dana bukanlah alasan untuk berhenti memproduksi film.
Hal tersebut disampaikannya saat hadir sebagai pemateri utama dalam festival tahunan Parade Film Udinus #3 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Film dan Televisi (HM FTV) Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.
Bekerja sama dengan Jakarta World Cinema (JWC) dalam ajang KlikFilm Short Movie Competition 2026, festival ini berlangsung meriah pada 4–6 Juni 2026 di Auditorium Gedung H Lantai 7 Kampus Udinus.
Dalam sesi edukasi yang mengusung tajuk utama “No Budget, No Excuses”, Joko Anwar membagikan formula berharga tentang strategi menyiasati proses syuting dengan anggaran terbatas kepada sekitar 120 peserta yang hadir.
”Masalah anggaran adalah hal lumrah yang dihadapi oleh pembuat film di tingkat mana pun, termasuk saya yang telah aktif berkarier sejak tahun 2005. Kuncinya terletak pada kemampuan sineas itu mendesain skenario yang adaptif terhadap ketersediaan dana,” ujar Joko Anwar.
Ia juga menambahkan pentingnya kepekaan sineas dalam merespons isu-isu di lingkungan sekitar. Hal ini krusial agar karya yang dihasilkan terasa dekat dan relate dengan penonton.
Sutradara film Pengabdi Setan ini juga memotivasi mahasiswa Udinus untuk berani terjun ke industri perfilman Indonesia yang saat ini tengah melesat maju. Saat ini, sekitar 60 hingga 70 persen penonton bioskop tanah air lebih memilih film lokal dibanding film impor.
”Pelajari ilmunya secara mendalam di FTV Udinus ini. Setelah itu, teruslah belajar membuat film untuk terus belajar. Karena pada akhirnya, proses membuat film itu sendiri adalah sarana pembelajaran yang terbaik,” imbuhnya.
Ketua Pelaksana Parade Film Udinus #3, Fikri Achmad Arminto, mengungkapkan bahwa festival tahun ini mencetak sejarah baru. Untuk pertama kalinya, panitia membuka open submission dengan jangkauan wilayah yang lebih luas, yaitu Jawa Tengah hingga Yogyakarta.
”Festival ini dibentuk demi menggerakkan roda ekosistem perfilman di Semarang serta Jawa Tengah,” jelas Fikri.
Dari total 50 film pendek yang mendaftar, proses kurasi menyisakan 10 film kompetisi terbaik yang terbagi atas:
- 5 karya kategori Mahasiswa
- 5 karya kategori Pelajar
Langkah kreatif mahasiswa ini mendapat apresiasi penuh dari Rektor Udinus, Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, S.T., M.Kom. Ia secara khusus memuji tema unik yang diangkat tahun ini, yaitu “Nasi Telur”.
”Layaknya makanan sederhana yang kaya gizi, tema ini melambangkan ide-ide kreatif mahasiswa yang tetap tumbuh subur meski di tengah keterbatasan anggaran dan waktu. Jangan takut gagal dalam bereksperimen, karena tidak ada film yang jelek, melainkan hanya belum sempurna,” puji Rektor Udinus.
Besides sesi bersama Joko Anwar, rangkaian festival tiga hari ini juga menghadirkan berbagai program menarik lainnya, seperti:
- Focus On bersama sineas lokal Bobby Prasetyo.
- Kompetisi Pelajar dan Mahasiswa.
- Program Komunitas & FTV Showcase.
Kolaborasi apik antara Udinus dan JWC ini menegaskan posisi Udinus sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki Program Sarjana Terapan FTV dengan akreditasi ‘Unggul’. Kehadiran Joko Anwar pun diharapkan mampu menjadi tolok ukur dan bahan evaluasi agar festival di tahun-tahun mendatang dapat dikemas jauh lebih matang.

Komentar