BERITASEMARANG.ID – Cerita inspiratif datang dari gelaran Wisuda Sarjana ke-100 UIN Walisongo Semarang yang digelar di Gedung Tgk Ismail Yaqub, Sabtu (23/5/2026). Fairuz Miksalimna, mahasiswi Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), berhasil dinobatkan sebagai wisudawan terbaik prodi dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,74.
Keberhasilan Fairuz ini tidak lepas dari ketertarikannya yang mendalam pada dunia pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut ia tuangkan dalam skripsi fenomenal yang mengangkat eksistensi komunitas lokal di Kabupaten Batang.
Fairuz sukses mempertahankan skripsinya yang berjudul “Modal Sosial Komunitas Pecinta Alam Enak Tentrem Ora Mendem dalam Pengembangan Desa Wisata Pandansari Kecamatan Warungasem”.
Ia mengaku terpikat oleh bagaimana sebuah komunitas pecinta alam dengan nama unik tersebut mampu menggerakkan warga sekitar melalui potensi daerahnya.
”Saya tertarik karena komunitas ini, dengan modal sosial yang mereka miliki, dapat memanfaatkan potensi yang ada untuk dijadikan sebagai desa wisata. Dampaknya sangat dirasakan, khususnya dalam meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar desa wisata,” jelas Fairuz dengan rona bahagia di wajahnya.
Gadis berprestasi ini berharap hasil penelitiannya tidak sekadar menjadi pajangan di rak perpustakaan. Ia ingin risetnya mampu menginspirasi gerakan serupa di berbagai daerah lain di Indonesia.
Menyandang gelar sarjana sekaligus predikat lulusan terbaik diakui Fairuz sebagai kado yang tak pernah diduga. Sejak awal, ia mengaku tidak pernah menargetkan gelar tersebut dan hanya fokus agar studinya selesai tepat waktu.
Perjalanannya pun tidak selalu mulus. Fairuz blak-blakan mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama kuliah bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri.
- Musuh Utama: Rasa malas dan kejenuhan (burnout).
- Motivasi Bangkit: Ingatan akan perjuangan dan pengorbanan kedua orang tua.
Saat ditanya mengenai rahasia suksesnya menjaga konsistensi dari semester awal hingga lulus, Fairuz memberikan jawaban yang cukup unik. Ia mengaku hanya menerapkan prinsip “tahu diri”.
”Saya tidak punya trik atau rahasia belajar yang khusus. Cara saya membagi waktu adalah kalau waktunya kuliah ya kuliah, nugas ya nugas. Kalau emang ada hari libur ya dimanfaatkan untuk me time. Intinya tahu diri kapan waktunya untuk nugas dan main,” tuturnya santai.
Keberhasilan ini dinilai Fairuz sebagai buah dari doa orang tua, dukungan sahabat, serta bimbingan dari para dosen. Namun, porsi apresiasi terbesar ia sembahkan khusus untuk kedua orang tuanya, Bapak Kholik Mahmud dan Ibu Zumaroh, yang selalu memberikan dukungan penuh sejak hari pertama kuliah.
”Untuk Bapak dan Ibu, terima kasih banyak atas doa dan support-nya. Semoga Bapak dan Ibu diberkahi umur panjang dan sehat lahir batin, Aamiin,” pungkas Fairuz penuh haru.

Komentar