BERITASEMARANG.ID – Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) resmi menetapkan standar baru dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tidak sekadar pengabdian biasa, para mahasiswa KKN Semester Genap 2025/2026 kini mengemban misi sebagai “Garda Depan Mitigasi Bencana” di wilayah rawan Jawa Tengah.
Guna mematangkan persiapan, Pusat Pemberdayaan Masyarakat dan KKN UPGRIS menggelar Focus Group Discussion (FGD) strategis pada Rabu (18/12). Kegiatan ini dirancang khusus untuk membekali ratusan mahasiswa sebelum mereka diterjunkan ke 48 titik lokasi mulai 13 Januari hingga 3 Maret 2026 mendatang.
Misi Khusus di “Titik Rawan”
Kepala Pusat Pemberdayaan Masyarakat dan KKN UPGRIS, Arisul Ulumuddin, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa pemilihan tema “Mitigasi Bencana Berbasis Partisipasi Masyarakat” didasarkan pada realita geografis lokasi KKN. Mahasiswa akan tersebar di lima wilayah krusial:
-
- Kota Semarang
- Kabupaten Semarang
- Kabupaten Kendal
- Kabupaten Pati
- Kabupaten Demak
Aksi Nyata: Bukan Sekadar Teori
Terdapat tiga pilar utama yang menjadi target mahasiswa KKN UPGRIS kali ini:
-
-
- Pemetaan Kerentanan (Mapping): Mahasiswa diwajibkan mengidentifikasi titik-titik rawan, mulai dari lahan gundul hingga potensi longsor. Jika ditemukan lahan kritis, mereka akan melakukan aksi nyata berupa penanaman pohon.
- Digitalisasi Penyelamatan Dokumen: Salah satu inovasi menarik adalah edukasi penyelamatan arsip penting. Warga diajarkan mengubah dokumen fisik (Ijazah, Sertifikat, dll) menjadi format digital agar tetap aman meski fisik dokumen terdampak bencana.
- Sekolah Aman Bencana: Mahasiswa akan masuk ke sekolah-sekolah untuk memberikan simulasi gempa bumi dan cara berlindung yang tepat, menanamkan budaya siaga sejak dini kepada anak-anak.
-
Membangun “Benteng” Desa Tangguh Bencana
Target besar dari program ini adalah terbentuknya Desa atau Kelurahan Tangguh Bencana. Arisul menekankan bahwa di seluruh 48 lokasi penugasan, mahasiswa diharapkan mampu menginisiasi atau menghidupkan kembali forum relawan desa yang melibatkan Karang Taruna hingga pemerintah setempat.
”Kami ingin setiap desa punya sistem kesiapsiagaan yang jelas. Mahasiswa akan melaporkan hasil pemetaan risiko mereka ke pihak desa dan BPBD setempat agar ada tindak lanjut jangka panjang,” tambahnya.
Melalui langkah ini, UPGRIS berharap kehadiran mahasiswa mampu mengubah rasa panik menjadi aksi yang terukur, menjadikan masyarakat Jawa Tengah lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan alam.

Komentar