Semarang

Di Jakarta Future Festival 2026, Wali Kota Semarang Tawarkan Solusi Ketahanan Pangan Masa Depan lewat Program ‘Pak Rahman’

BERITASEMARANG.ID – Isu kedaulatan pangan sering kali luput dari pembahasan para perencana kota besar, padahal menjadi persoalan paling krusial di wilayah perkotaan. Menjawab tantangan tersebut, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, memaparkan inovasi ketahanan pangan terintegrasi dalam diskusi panel Urban Talks di ajang Jakarta Future Festival (JFF) 2026 yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (5/6).

​Dalam forum nasional tersebut, Agustina menyoroti keterbatasan pemerintah daerah dalam melakukan intervensi langsung terhadap stabilitas harga pangan karena tata niaga yang bergantung pada mekanisme pasar bebas. Padahal, pemenuhan pangan harian warga adalah tanggung jawab pemerintah.

​”Lahan sawah di Kota Semarang saat ini tercatat sekitar 2.000 hektare. Jumlah produksi beras lokal tersebut baru mampu mencukupi sekitar 11 sekian persen dari total kebutuhan konsumsi masyarakat,” ujar Agustina. “Kami di pemerintahan tidak memiliki sistem pengendalian maupun penentuan harga karena kendali sepenuhnya berada di pasar.”

​Solusi Taktis Lewat Program “Pak Rahman”

​Menyiasati keterbatasan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meluncurkan inovasi program “Pak Rahman” (Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman).

​Program ini berupa mobil pangan keliling yang digerakkan secara gotong royong bersama para pedagang. Setiap bulannya, “Pak Rahman” menjangkau ratusan titik hingga tingkat kelurahan untuk menstabilkan harga sekaligus menjaga daya beli warga.

Ofero Tebar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026: Cashback Rp4 Juta hingga Lelang Mulai Rp 0

​Inovasi ini terbukti memberikan dampak makro yang signifikan:

  • Pengendalian Inflasi Terbaik: Sukses menempatkan Kota Semarang sebagai daerah dengan pengendalian inflasi terbaik di Jawa Tengah.
  • Penjaga Stabilitas Regional: Mengingat aktivitas ekonomi Kota Semarang memberikan andil sebesar 30 persen terhadap pembentukan angka inflasi di tingkat provinsi, keberhasilan program ini berdampak besar bagi Jawa Tengah.

​Warak Ngendog dan Modal Sosial Masyarakat

​Agustina menjelaskan bahwa efektivitas program ini tidak lepas dari akar budaya toleransi masyarakat Semarang yang sudah terjaga selama ratusan tahun. Filosofi ini tercermin dari makhluk imajiner Warak Ngendog.

​”Karakter kebersamaan itu tercermin dari filosofi Warak Ngendog ciptaan para budayawan 142 tahun lalu, di mana pertemuan lintas budaya harus menghasilkan ‘telur’ atau jalan keluar yang saling menguntungkan secara ekonomi,” jelasnya.

​Akar budaya toleransi dan kemandirian ini juga yang mendorong kesuksesan sektor lain, seperti revitalisasi berkelanjutan kawasan Kota Lama sejak tahun 2020. Transformasi ini berhasil membawa Kota Semarang mencatatkan angka kunjungan wisatawan tertinggi di Jawa Tengah selama empat tahun berturut-turut.

​Kolaborasi Membangun Kota Tangguh

​Agenda Urban Talks sendiri merupakan bagian dari rangkaian JFF 2026 yang dibuka langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Graha Bhakti Budaya TIM. Memasuki tahun ke-3, festival garapan Bappeda Provinsi DKI Jakarta ini mengusung tema “Navigating Resilience”.

Delegasi UNDIP Raih Medali di ONMIPA-PT Tingkat Nasional 2026

​Melalui forum ini, Pemkot Semarang berharap dapat membagikan praktik kolaboratifnya sebagai referensi bagi daerah lain dalam membangun kota yang berketahanan.

​”Kunci membangun kota masa depan yang tangguh ada pada ruang dialog, kolaborasi antar-daerah, dan keberanian untuk turun langsung membuat gerakan bersama di lapangan demi kesejahteraan warga,” pungkas Agustina.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement