Semarang

Gandeng Fadli Zon, Wali Kota Agustina Gelar Pameran Filateli: Upaya Menolak Lupa Sejarah Bangsa

BERITASEMARANG.ID – Kementerian Kebudayaan RI bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sukses menggelar acara Orasi Publik dan Pameran Filateli di Gedung Oudetrap, kawasan Kota Lama Semarang, Minggu (31/5/2026).

​Acara yang mengangkat tema “Dalam Cengkraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli 1942-1945” ini dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng.

​Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menekankan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang pamer benda kuno, melainkan sebuah upaya konkret untuk merawat memori kolektif bangsa agar tidak tergerus zaman.

​”Berdiri di sini bersama para senior adalah upaya untuk menjaga ingatan, untuk menolak lupa,” ujar Agustina, mengutip filsuf Romawi kuno, Cicero, bahwa sejarah adalah saksi zaman dan guru kehidupan.

​Agustina menjelaskan, benda sekecil prangko dan dokumen komunikasi pada era 1942–1945 yang dipamerkan menjadi bukti nyata bagaimana militerisme Jepang melakukan kontrol publik dan membatasi informasi. Di tengah gempuran era digital di mana informasi mudah datang dan pergi, arsip fisik seperti filateli memiliki nilai yang sangat berharga.

20% Lulusan SCU Sudah Kerja Sebelum Wisuda, Gaji Pertama Tembus Rp6,2 Juta

​“Filateli mengajarkan kepada kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan ingatannya. Karena itu saya mengajak masyarakat, khususnya anak-anak muda, untuk datang melihat pameran ini,” ajak Agustina.

​Sebagai bentuk dokumentasi sejarah masa kini, Wali Kota Semarang juga melakukan penandatanganan Sampul Peringatan Hari Jadi ke-479 Kota Semarang. Langkah ini diharapkan dapat menitipkan pesan bagi generasi masa depan tentang tangguhnya Kota Semarang melewati masa kolonialisme hingga menjadi kota yang maju.

​Senada dengan Agustina, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam orasi ilmiahnya memaparkan betapa krusialnya periode 3,5 tahun pendudukan Jepang dalam sejarah Indonesia. Menurutnya, era tersebut adalah salah satu periode penjajahan paling kejam, yang diwarnai oleh keberadaan kamp konsentrasi (interniran) hingga kerja paksa (romusha).

​Fadli Zon menegaskan bahwa prangko, dokumen, dan sensor erat kaitannya dengan geopolitik Perang Dunia II di teater Pasifik.

​”Yang fana adalah waktu, tetapi arsip dan memori bangsa akan selalu abadi. Mari kita merawat keabadian sejarah tersebut,” tegas Menteri Kebudayaan, seraya mengajak kaum akademisi dan generasi muda untuk mengapresiasi pameran ini.

Ofero Tebar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026: Cashback Rp4 Juta hingga Lelang Mulai Rp 0

​Sebagai penutup acara, Pemkot Semarang bersama Kementerian Kebudayaan membagikan suvenir eksklusif berupa amplop dan kartu pos filateli kepada para tamu undangan.

​Bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya yang ingin melihat langsung rekam jejak sejarah lewat prangko-prangko langka ini, berikut informasi detail pamerannya:

  • Lokasi Pameran: Rumah Pohan, Kawasan Kota Lama Semarang.
  • Waktu Pelaksanaan: Minggu, 31 Mei hingga Minggu, 7 Juni 2026.
  • Harga Tiket: Gratis dan terbuka untuk umum.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement