BERITASEMARANG.ID – Universitas Semarang (USM) sukses menggelar acara “Ngaji Kebangsaan dan Nilai Kemanusiaan” di Auditorium Prof H Muladi, Selasa (2/6/2026) malam. Acara yang berlangsung khusyuk ini menghadirkan ulama karismatik sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Girikusumo Mranggen, Demak, KH Munif Muhammad Zuhri atau yang akrab disapa Mbah Munif.
Dalam tausiahnya di hadapan sekitar 150 peserta, Mbah Munif mengajak jamaah untuk merefleksikan kembali makna iman secara lebih mendalam. Menurutnya, iman tidak boleh hanya berhenti pada tataran formalitas atau sekadar memercayai keberadaan Tuhan, melainkan harus mampu mentransformasikan rasa aman dan ketenteraman dalam kehidupan sehari-hari.
”Iman memiliki makna yang sangat luas. Bukan hanya percaya, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman,” ujar Mbah Munif.
Mbah Munif menganalogikan iman seperti hubungan persahabatan yang kokoh. Ketika seseorang sudah menaruh kepercayaan penuh pada sahabatnya, rasa khawatir akan hilang dengan sendirinya. Begitu pula seharusnya hubungan antara seorang hamba dengan Allah SWT.
Orang yang benar-benar beriman, lanjutnya, tidak akan mudah gelisah menghadapi dinamika dunia karena mereka yakin bahwa setiap ketetapan Allah SWT pasti membawa kebaikan.
Esensi Ibadah adalah Berserah Diri
Lebih lanjut, Mbah Munif mengingatkan bahwa ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, hingga haji jangan sampai kehilangan ruhnya. Ragam ibadah tersebut merupakan bentuk pengabdian, namun puncak tertinggi dari spiritualitas adalah kepasrahan total kepada Sang Pencipta.
”Shalat, puasa, zakat, dan haji adalah bagian dari pengabdian. Namun puncaknya adalah ketika seseorang benar-benar berserah diri kepada Allah,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa satu-satunya pihak yang tidak akan pernah mengecewakan manusia adalah Allah SWT. Oleh karena itu, ia berpesan agar kecintaan kepada Pencipta harus ditempatkan di atas segalanya, melebihi keduniawian.
”Dunia Tidak Punya Masalah, Manusia yang Membuatnya”
Menyoroti berbagai konflik dan musibah yang terjadi di masyarakat, Mbah Munif mengajak jamaah untuk berhenti menyalahkan keadaan dan mulai giat berintrospeksi diri. Menurutnya, akar masalah sering kali bersumber dari perilaku dan cara berpikir manusia itu sendiri, bukan dunianya.
”Apa yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah diri kita sendiri. Jangan terlalu sibuk mengeluhkan keadaan, tetapi perbaiki diri terlebih dahulu. Dunianya tidak ada masalah. Kitalah yang sering membuat masalah,” tegas Mbah Munif.
Ia menambahkan bahwa tujuan hidup manusia bukan semata-mata mengejar kecerdasan, kekayaan, atau jabatan. Ketika kesadaran bahwa “hidup ini milik Allah” sudah tertanam kuat, maka perbedaan status sosial maupun kondisi ekonomi tidak akan lagi memicu kegelisahan. Baik dalam kondisi kaya maupun miskin, pintar maupun sederhana, hidup akan dijalani dengan penuh ketenangan dan keikhlasan.
Dihadiri Lintas Profesi dan Akademisi
Acara Ngaji Kebangsaan ini tidak hanya magnet bagi civitas akademika USM, tetapi juga berbagai elemen masyarakat. Hadir langsung dalam acara tersebut Rektor USM sekaligus Ketua Forum Santri Lintas Profesi, Dr Supari ST MT.
Selain itu, tampak hadir Sekretaris Forum Santri Lintas Profesi Dr Muhammad Ja’far S MSi Ak CA, Prof Dr Muhammad Haddin, Prof Dr Slamet Imam Wahyudi, serta sejumlah tamu undangan penting lainnya.
Peserta yang memadati auditorium datang dari latar belakang yang sangat beragam, mulai dari mahasiswa, dosen, wartawan, advokat, hingga akademisi dari berbagai kampus besar di Jawa Tengah seperti Undip, Unissula, UPGRIS, dan Unnes.
Melalui kegiatan ini, USM berharap dapat mengukuhkan kembali kesadaran spiritual dan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat, sekaligus mengajak semua pihak untuk menjalani kehidupan dengan hati yang damai.

Komentar